Kecil-Kecil Kok Sudah Jadi Jawa

2008-07-31 5 comments

Begitu mantra ganjil yang selalu dirintihkan. Diucapkan dengan mendayu-dayu bak artis sinetron lagi belajar main drama. Seakan-akan semakin melodius rintihannya, akan mempertinggi omset recehan ringgit yang diterimanya. Awalnya, geli juga Mas Celathu melihat modus “kreatif” manusia Jawa ini. Tapi cuma sesaat. Rasa gelinya tiba-tiba membuat dirinya gusar, setelah mendengar celoteh canda sekelompok lelaki berkulit kuning langsat dan bermata sipit yang ada di situ. Jika diindonesiakan, guyonan itu kira-kira bunyinya begini.

“Kasihan anak itu ya,” kata salah seorang sambil menunjuk bayi yang ada di gendongan ibu pengemis.

“Emang kenapa? Dia kan tampak sehat,” jawab temannya.

“Bukan begitu”.

“Terus kenapa? Karena masih bayi diajak mengemis?”

“Juga bukan”.

“Trus, kenapa emangnya?”

“Kasihan banget dia tuh. Kecil-kecil sudah jadi orang Jawa”.

“Hua ha ha…ha ha ha…,” tawa mereka meledak. Orang-orang Melayu yang mendengar tanpa sengaja pun, juga ikut cekakakan. Tapi Mas Celathu tidak. Yang meledak dalam dirinya adalah keterhinaan dirinya sebagai orang Jawa. Dalam canda ini ras Jawa bagai telah dinajiskan. Benar-benar terhina, direndahkan lebih rendah dari kaum paria. Tadinya sih Mas Celathu ingin meledakkan amarahnya saat itu juga. Tapi setelah melirik kiri kanan ditatapnya puluhan lelaki kekar yang pada tertawa, langsung saja ngeper-nya yang keluar. Dasar jirih. Dia telan lagi amarahnya. Lalu segera kabur sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.gelakgulinggelakgulinggelakguling

Tulisan yang dicetak biru diatas adalah kutipan dari tulisan Kang Butet Kartaradjasa dalam artikelnya yang bertajuk Tiga Shio. Paling nggak, tulisan itu bikin saya ketawa setengah idup lantaran otak sudah "umop" bikin "prospektus" tentang Bumi Resources. Sebuah tulisan dan guyonan yang dahsyat disertai sebuah sindiran tentang bangsa jawa. Sebenernya lagi males ngomentarin apapun tapi dipaksa oleh seseorang untuk mengomentari yang satu ini, apa daya, saya tertawa sampai terkencing-kencing, lha priye, "wong jowo kok seneni.."
gelakgulinggelakguling



Disclaimer :
Tulisan yang berwarna hitam ditulis nggak pake otak
Tulisan tersebut ditulis lantaran penulis lagi setres berat dikejar deadline...adacalladacalladacall

Read the full story

Welcome (again...) Carlitos

2008-07-29 4 comments



Setelah sebelumnya kubu Old Trafford agak adem ayem di bursa transfer musim ini, akhirnya terjadi sebuah pemecahan rekor transfer oleh pihak setan merah. Adalah kepemilikan permanen Carlos Tevez yang menyebabkan United bersedia mengucurkan dana 32 juta poundsterling atau sekitar Rp 581 miliar. Nilai transfer ini memecahkan rekor transfer 29,1 juta poundsterling Rio Ferdinand enam tahun silam dari Leeds United. Tevez sendiri sudah tercantum sebagai anggota "Fergie Babes" saat meraih double winners musim lalu meskipun dengan status pemain pinjaman dari Media Sport Investments, sebuah firma manajemen milik Kia Joorabchian, dari West Ham United seharga dua juta pounds..

Sebagai salah satu pemuja setan yang baik, tentunya saya menyambut bahagia kepemilikan permanen striker Argentina ini. Penampilan Tevez musim lalu tidak buruk dengan koleksi 19 golnya dari 48 pertandingan. Salah satu gol istimewa Tevez adalah golnya di menit 88 ke gawang Blackburn Rovers di Ewood Park medio April silam, dimana gol tersebut menyelamatkan peluang United untuk menjadi kampiun liga.

Kerja Sama dengan Wayne Rooney, striker united lainnya, juga terbilang sangat padu karena kebanyakan mereka mengandalkan insting. Meski keduanya bisa dibilang pendek sebagai ukuran striker, namun mereka bisa menutup kekurangannya dengan kecepatan dan daya jelajah yang tinggi. Hasilnya? meski tak seproduktif Cristiano Ronaldo, Tevez tetap memegang peranan penting untuk United menuju tahta Eropa.

Bagi saya, permanennya Carlitos berarti menutup peluang Dimitar Berbatov menuju Old Trafford. Terus terang, saya suka gaya permainan Berbatov, tapi untuk saat ini, Berbatov bukan orang yang pas untuk mengisi satu pos penyerang United yang tersisa. United memang memerlukan finisher, dan hal itu ada dalam striker "buangan" Barcelona yang kabarnya akan bermain di Liga Uzbekistan, Samuel Eto'o. Dan yang lebih penting lagi adalah seorang yang bertipikal sayap kanan sebagai back up untuk Cristiano Ronaldo pada diri Hamit Altintop atau Bastien Schweinsteiger, meski dua nama terakhir terkesan impossible untuk ditarik ke Old Trafford.

Meski demikian, selaku pemuja setan sejak 13 tahun yang lalu. Saya percaya apa yang akan dilakukan oleh opa Fergie di bursa transfer kali ini akan memberi pengaruh positif ke kubu Old Trafford. Untuk Tevez sekali lagi saya ucapkan "Welcome Home Carlitos !!!"



Disclaimer:
  1. Penulis adalah pemuja setan sampai mati !!!
  2. Penulis selalu beranggapan bahwa setan akan selalu menang dan merajai dunia
  3. Gambar dicuri dari sini


Read the full story

Miskin Karena "Salah Kaprah"?

2008-07-28 5 comments

Bukan karena sebuah idealisme saya menulis tulisan ini. Sebab bagi saya idealisme itu adalah bull shit. Tapi saya menulis ini hanya sebagai ungkapan perasaan simpati kepada beberapa gelandangan yang saya temui di pelataran Stasiun Gondang Dia, Jakarta Pusat. Fenomena menyedihkan tersebut saya temui sepulang dari Center for Democracy & Transparancy (CDT) Institute, beberapa ratus meter dari Stasiun Gondang Dia. Sayang, saya tidak membawa kamera saat itu. So, saya tak bisa mengabadikan gambar mereka. Yang ada hanyalah gambar colongan dari blog ini



Entah mengapa, begitu banyak orang miskin di republik ini. Padahal, konon katanya bangsa ini dianugrahi oleh kekayaan alam yang melimpah. Sejenak, saya setuju dengan Vilferdo Pareto, seorang ekonom Italia yang lahir di Paris. Hukum yang juga dikenal dengan Prinsip 80/20 (the 80/20 Principle) itu mengatakan bahwa 80 % akibat berasal dari 20 % penyebab. Dalam hal ini, saya jadi tertegun, apakah 80 % kemiskinan di Indonesia itu disebabkan oleh 20% orang?

Sejujurnya, terkadang saya berpikir. Apakah lantaran sudah merasa makmur, lalu bangsa ini nggak pernah sadar ketika mereka ketinggalan? Tengoklah negeri Skandinavia seperti Finlandia dan Swedia. Betapa luar biasanya perkembangan mereka dalam satu dasawarsa terakhir jika dilihat dari pendapatan perkapita mereka. Padahal dulunya, negeri-negeri itu nggak lebih dari sebuah wilayah yang sangat "merindukan" cahaya matahari setiap harinya. Ataukah karena bangsa ini nggak terlalu pintar buat berkembang?

Banyak para ekonom yang mengatakan bahwa kemiskinan adalah keniscayaan yang harus terjadi. Ya, karena dengan adanya kemiskinan, diharapkan ada sebuah insentif untuk melakukkan mobilitas vertikal. Benarkah? Mungkin benar. Secara umum, saya sendiri membagi kemiskinan ini menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah kemiskinan karena malas. Jujur, di Jakarta, apapun bisa menjadi uang lantaran 70% uang di Indonesia beredar di Jakarta. Hanya masalah kreativitas dan kerja keras saja yang menentukan, apakah kita bisa mendapatkan apa yang kita mau. Tapi beberapa manusia terkadang gengsi atau malas melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai. Bagian kedua adalah kemiskinan karena keterbatasan informasi. Atau bahasa gampangnya dia nggak tahu, uang ada dimana. Nah, ini yang jadi penyakit pemerintah. Informasi disini bisa berarti pendidikan, jaringan, atau informasi secara konkrit.

Pendidikan adalah sebuah aspek yang sangat lemah di bangsa ini. Tapi ya sudah lah, saya bukan orang kompeten yang bisa memberi ide tentang bagaimana cara mendidik yang baik. Tapi, seenggaknya saya sangat miris melihat kadar pendidikan bangsa ini. Di CDT, saya sempat melakukkan survey terhadap 70 responden di Makassar dan Pare-Pare ditambah 35 responden dari Jogja. Hasilnya, tidak lebih dari 5% yang pernah merasakan bangku kuliah. Memang, hal ini tidak representatif terhadap kesimpulan mengenai kadar pendidikan di Indonesia karena memang survey yang saya lakukan bukan bertujuan untuk itu.

Saya mungkin tak perlu menjabarkan lagi kebobrokan pendidikan di republik ini. Mungkin anda pembaca, sudah jauh lebih tahu dari saya. Tapi saya memaklumi itu. Bagaimana tidak, lha wong APBD yang jumlahnya milyaran atau bahkan trilunan rupiah yang bisa untuk membiayai pendidikan justru lari ke klub peserta Liga Super Indonesia 2008. Padahal para petinggi klub itu mengklaim bahwa mereka klub profesional. Sungguh Memalukan !!! Itu belum termasuk uang "sisa" pembelanjaan yang harus habis pada waktunya. Nah, gimana Indonesia maju kalo kayak gitu. Saya pernah mengobrol ringan dengan salah seorang "pengemis profesional" dari kampung Lio, Depok. Dia hanyalah seorang lulusan SMP. Baginya, jangankan masuk SMA, lulus SMP saja sudah syukur.

Pendidikan memang mahal. Saya tidak memungkiri hal itu. Cobalah anda kuliah di Ivy League, AS di kampus apa saja. Mungkin biaya kuliah anda satu semester di sana sebanding dengan biaya hidup anda selama tiga tahun disini. Semakin tinggi ilmu yang mungkin dibagi, semakin mahal harganya. Itu hukum alam bukan? Dan saya pikir, jika anda seorang profesor dan anda mau tidak dibayar untuk mengajarkan ilmu anda kepada orang lain, mungkin anda adalah 1% dari penduduk dunia di golongan ini. Memang, jangan bandingkan AS dengan Indonesia, lantaran disposable income kita sangat berbeda jauh dengan warga AS. Kita sangat jauh di bawah.

Lantas, apakah para orang kaya itu diam saja? Nggak juga kok. Buktinya, beasiswa bejibun sampai numpuk-numpuk, seenggaknya di kampus saya. Setahu saya sebagian besar pengusaha di Indonesia berpikir, daripada mereka membayar pajak yang tinggi, mendingan uangnya buat rapel-an beasiswa.

Masalahnya seperti yang saya bilang diatas tadi. Pengeluaran yang nggak semestinya banyak terjadi di kalangan pemerintah. Pengeluaran untuk Olahraga, terutama buat klub-klub itu terlalu besar. Jujur, saya malah melihat bahwa pemerintah lebih peduli dengan prestasi Timnas Indonesia dari pada prestasi rakyatnya di bidang akademis. Dan hasilnya? Ya, anda tahu sendiri lah. Bagi saya, hal itu membuktikan sebuah budaya instan di kalangan rakyat Indonesia. Anda mau tahu, subsidi pemerintah buat klub liga super habis buat apa? That's it, cuman buat bayar gaji pemain asing dan pemain bintang !!! Saya takut, pemerintah jadi salah kaprah akan hal ini. Mereka nggak tahu (atau mungkin pura-pura nggak tahu), prioritas yang lebih penting.

Well, saya sebenarnya adalah seorang yang sangat mendukung adanya persaingan dan liberalisme. Tapi di Indonesia tidak untuk dua hal, pendidikan & kesehatan. karena bangsa ini belum mampu lari kesana.



Disclaimer:
Gambar saya colong dari sini


Read the full story

Kondom di Indonesia

2008-07-26 5 comments



Hi...

Apa yang kira-kira terlintas di benak anda jika saya menyebut kata "kondom"? Sex Bebas-kah? Pelacuran-kah? Bokep AVI Idol kah? Dokter Boyke kah? Ataukah hubungan romantis seorang suami dengan istrinya? Jika saya ditanya seperti itu, terus terang apa yang ada di benak saya adalah sex bebas. Kondom memang tidak selalu digunakan untuk sex bebas, akan tetapi, entah kenapa analogi dalam otak saya masih seperti itu. Apakah karena saya seorang yang kebetulan dilahirkan di belahan bumi bagian timur?

Kata wikipedia, kondom adalah alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin pada saat bersanggama yang biasanya dibuat dari karet latex dan dipakaikan pada alat kelamin pria atau wanita pada keadaan ereksi sebelum bersanggama Dan, kondom juga berfungsi sebagai pelindung kita agar tak terkena AIDS. Begitulah bahasanya. Kelihatannya memang bermanfaat, tapi coba anda iseng sejenak ke apotik terdekat dan belilah sebuah kondom, saat melakukan transaksi, kemungkinan besar jargon Miss Indonesia akan berlaku untuk anda, "Semua Mata Tertuju Padamu"

Mengapa begitu? anda pasti sudah tahu jawabannya bukan? Masyarakat kita masih tabu berbicara tentang hal yang satu itu, maka dari itu, jadilah kondom sebagai sesuatu yang "unik".

Seorang teman yang "relijius" mengatakan, bahwa memasarkan produk kondom itu sama artinya dengan menyebarkan ikhwal tentang sex bebas. Jadi seharusnya kondom itu haram dijual di Indonesia. Nah, ketika terjadi AIDS, teman tersebut menganggap bahwa itulah hukuman yang dijatuhkan Tuhan lantaran dia melakukan sex bebas. Solusinya adalah menikah dini (katanya lho...), selain menghilangkan fitnah, hal itu juga bisa menangkal terjadinya AIDS. Entahlah apakah teman saya ini mengerti benar tentang fungsi kondom atau tidak, ataukah dunianya hanyalah selebar musholla, yang pasti saya hanya manggut-manggut saja dan berkata na'am.

Nah, posisi kondom sendiri di masyarakat umum adalah antara benar dan salah, baik dan tidak, halal dan haram, pokoknya serba antara. Tak bisa dipungkiri bahwa jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan sebuah size pasar yang sangat potensial. Taruhlah dari 220 juta orang itu, 40% -nya cowok dan 60%-nya cewek. Berapa pasang jiwa yang berpotensi melakukan hubungan sex setiap harinya?

Well, persetan dengan norma. Sekarang, coba bayangkan kalau anda adalah seorang manajer pemasaran sebuah produk kondom baru di tanah air dan diminta perusahaan untuk menemukan sebuah konsep iklan yang jitu dan sesuai dengan kultur bangsa ini dan benar-benar nancep di masyarakat sehingga produk tersebut dikonsumsi seperti layaknya barang konsumsi lainnya, pasti sulit. Para "pengondom" lama telah mencoba melakukan penetrasi pasar dengan membuat iklan yang beraneka ragam, tapi tetap saja, permintaannya nggak terlampau memuaskan.

Lihat salah satu iklan Fiesta, sebuah produk yang menyasar segmen anak muda, disitu digambarkan kartun seorang wanita yang sorenya membeli kondom di supermarket. Setelah itu, dia pergi clubbing dengan seorang cowok, dan "berdiri semaleman" deh. Budaya yang digambarkan di iklan itu mungkin memang sudah merambah di Kota Besar, tapi di luar Kota Besar? Saya rasa masih jarang. Padahal, potensinya sama besarnya kan, sepanjang "ning lakang isih enek gedhang" (Di selangkangan masih ada pisang) setansetan

Lain lagi Sutera, yang ditujukan untuk generasi yang lebih dewasa. Iklan tersebut sudah memakai model. Dan digambarkan sebuah kemesraan pengantin baru yang dihalusinasi (halah bahasanya...) oleh cinta. Dan juga produk Blue Moon. Lebih riil situasinya.

Portofolio produk juga sudah coba dilakukan dengan menerbitkan kondom rasa buah dan cokelat (meskipun saya masih penasaran lantaran nggak ada kondom rasa rendang....jelirjelir) , tapi hasilnya? Nggak sesuai ekspektasi. Kondom tetap berada dalam posisi "antara".

Apakah hal itu akan terus terjadi di Indonesia? Mungkin saya hanya bisa menyarankan lebih baik anda berpikir ribuan kali untuk berinvestasi di perusahaan Kondom jika kultur bangsa ini masih seperti "timur"setansetan



Disclaimer:
Foto diatas dicuri dari sini
Tulisan dibuat semata-mata hanyalah sebuah opini, bukan buat promosi Kondom
Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang nggak sopan
Read the full story

The Nice-Looking Minangese

"Hey stop, gue ngelihat seseorang. Dan pastinya, sempet bikin gue tertegun sesaat. Hampir aja gue nyamperin dia dan bilang, "Are you..." tapi ya udah lah, nggak mungkin lah rute penerbangan Jakarta - Manchester bisa ditempuh dalam tempo 3 jam, atau mungkin, udah ada di Jakarta?" fikirfikir


Tersentak aku tersadar dengan pembicaraan seputar Minangkabau, yang kulakukkan dengan seorang minang, di rumah makan minang pula. Sebuah anugerah alam yang indah dan berpotensi menghasilkan devisa negara. Tapi seperti pada umumnya wisata di Indonesia, nggak terawat !!!

Siapa sih bule yang nggak "jiper" mendengar dahsyatnya deburan Ombak di sebelah barat Mentawai?, Keindahan alam Lembah Harau (Bukan Padang Goceng ya...), dan tentunya, sebuah eksotika nan romantis yang tergambar di Jembatan Siti Nurbaya ketika jam 9 malam. Dan banyak lagi tentunya. Minangkabau pun sangat kental dengan kisah-kisah romantis masa lalu seperti yang tertuang dalam buku "Tenggelamnya Kapal Van Der Wick" nya HAMKA & "Siti Noerbaja"-nya Marah Rusli. Bahkan, konon katanya seorang antropolog yang berasal dari Belanda sampai meneliti, apakah benar, makam Siti Nurbaya memang berada di bukit sebelah jembatan itu?



Hanyalah sebuah pembicaraan ringan, nggak lebih. Otakku justru tak berada di ranah diskusi dengan temanku sejak mataku terlalu sibuk untuk memastikan apakah benar, dia adalah dia yang kumaksud. Tapi tidak, hanya mirip saja. "Gadih Minang ko..." Kawanku nyeletuk.

"Nice looking..." ros

Terkadang sebuah bait lagu Lionel Richie yang berbunyi, "are you somewhere feeling lonely, or is someone loving you? malu mampir di sela-sela kebengonganku. Halah, jadi meniru gayanya si Juple di 5 cm. Tapi ya udah lah, kan mau main PS malam ini sama si Raco.


*"'Cause I wonder where you are and I wonder what you do..."[2]rindurindu



Disclaimer :
  1. Gambar untuk ilustrasi diambil dari sini, sini, dan sini dengan pengeditan seperlunya dengan sotosop 7
  2. Tulisan ini memang bercerita tentang seseorang, tapi tolong jangan GR duluan ya...takboletakboletakbole
Read the full story

Seniman Pengecer Cangkem

2008-07-24 4 comments


Sopo sing ra kenal karo Butet Kertaradjasa, seniman Jogja sing level kejawaane ki dahsyat kae. Saben njedhul neng media, tindak tanduk'e ki pancen mencerminkan tenan nek dheweke kuwi wong jowo. Bahkan nek didelok seko carane le njeplak (waca: ngomong) kuwi mesti enek embel-embel boso jowone. Contone dialog sing tak comot seko sawijining adegan ning acara Kerajaan Mimpi ning Metro TV, pas jaman-jamane reshuffle kedua pak SBY. Adegan kuwi dilakoni pas Kerajaan Mimpi arep "berevolusi" dadi republik meneh. Sang Raja, SBY (Si Butet Yogya), sing isih "didaulat" dadi rojo, kon lengser keprabon dadi presiden meneh. Aku nonton karo mbokku nek ra salah gek kae. Kurang luwihe tulisane muni ngeneki :


PRESIDEN SBY (Si Butet Yogya) -- Sebagai Raja
"Jadi,saya putuskan bahwa reshuffle ini, ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan"

(Sak ruangan do ribut kabeh, terus Harun Al Jaim, Menteri Hukum angkat bicara)

HARUN AL JAIM
"Ndak bisa lah itu, dimana-mana waktu buat menunda keputusan harus jelas, ndak ada itu, ndak ada..."

PRESIDEN SBY
"Yo sak karepku 'ok... Wong Raja 'ok.."
(Nganggo Logat Jowo lho yooo...)

Bar kuwi mbuh napa aku kok njur ngekek-ngekek kemekelen nganti koyo arep modar kae gelakgulinggelakgulinggelakguling. Nek bosone guru agamaku pas SD biyen : 'Lucu Gila Hi Ta'al'a (Ups... no protests!!!), trus bar kuwi, terucap kata "bosoooookkkk" seko lambeku, pancen Singo tenan kok kang Butet kiy. Kombinasi boso Jowo karo Indonesia-ne ki gurih tenan kae, segurih Indomie Goreng.jelir. Mungkin nek ning bahasa Inggris kuwi dikenal istilah "American-English", nek ge kang Butet, enek istilah "javanese-Indonesian" alias boso Indonesa-Jowo.

Kemampuanne kang butet leh'e mengolah kata-kata diduduhke neng blog-e seng judule "Pengecer Cocot Cangkem". Neng kono, kang Butet nganggo point of view Mas Celathu, wong ndeso seng hobine njeplak. Boso seng di enggo kuwi boso Indonesia-Jowo. Salah siji kata-katane seng tak senengi koyo ngeneki:

"Ada pula mayat abnormal. Matinya tidak konvesional. Maksudnya, berubah status menjadi “mantan manusia” karena kecelakaan atau dicelakai. Misalnya dicelakai perampok yang sangat bengis. Atau dirajang-rajang jadi korban mutilasi oleh partner homoseks."
Butet Kertaradjasa - Panen Mayat

ngerti ra nopo aku ngakak, delokno kata-kata seng kedhap-kedhip neng quote ndhuwur kuwi. Di rajang-rajang ki kan bosone daging karo janganan. Dadi, dirajang-rajang kuwi boso Indonesia-ne dipotong kecil-kecil. AKu mbayangke nek kata-kata kuwi metu seko cangkeme kang Butet disponsori karo logate seng ngono kae... mesti lucune na'udzubillah
Tanpa mangsud mbandingke, aku luwih seneng guyonane kang Butet, mbangane guyonane mas Thukul. Nek menurutku, guyonane ki cerdas lantaran dipengaruhi karo seni peran seng apik. Liyane kuwi, kang Butet kuwi ngomong bak pakar lingusitik, dheweke ngerti kapan kudu serius, ngomong dengan EYD, lan kapan kudu njeplak nganggo boso jowo. Kang Butet mung siji seko macem-macem budoyo Jowo seng iso kudu dilestarikan. Kang Butet kuwi ra tau minder opo isin nek dheweke ki medhok tenan Jowone. Bahkan, dheweke selalu menyertakan unsur Jowo neng saben pertunjukkane. Kuwi bedo tenan karo mas-mas neng Mangga Dua seng sok-sokan mekso ngomong "gue-lo", padahal logate mung feasible ge ngomong "nyong-nyongan" jelirjelir




Disclaimer:

1 Tulisan Ini Menggunakan Bahasa Jawa Sak-Sak'e, ditulis lantaran penulis sudah kebelet ingin nulis dalam Bahasa Jawa dan males belajar Boso Kromo Inggiljelir
2 Blog-ke kang Butet iso diragut (mbuh ki boso ngendi asline, neng lemuni artine browse) neng link : http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/
3 Gambar tak colong seko kene lan kene
Read the full story

Bicara Tentang Industri Televisi di Indonesia (Part 2)

2008-07-22 3 comments

Ada kalanya kita bertanya-tanya, kenapa sih kok sekarang banyak banget sinetron-sinetron yang bertebaran di layar kaca? Dan kebanyakan diantaranya adalah sinetron bertemakan ABG. Terus, kemana perginya tayangan-tayangan kartun di TV yang selalu menghibur generasi 90's setiap sore dan minggu? Mengapa kok industri televisi di Indonesia kualitas acaranya jelek? Dan mengapa stasiun TV seperti METRO TV yang menjaga kualitas acaranya sehingga mencerdaskan kehidupan bangsa justru kembang kempis menyelamatkan diri dari kebangkrutan? Kenapa juga kok banyak banget iklan di TV yang sifatnya norak?? Dan terakhir, kenapa masih ada aja yang berpartisipasi sebagai korban perampasan pulsa dengan melakukkan REG[Spasi]XXXX?? Hayo... kenapa hayo...? soalsoalsoal

Memang itulah realita yang ada dalam dunia pertelevisian Indonesia. Budaya menonton acara-acara yang informatif di era 90-an seolah lenyap memasuki akhir dasawarsa ke 200 ini. Kini? Tiada hari tanpa sinetron bukan? Bahkan, seorang teman saya alumni Teknik Mesin UI angkatan 2003 masih setia menonton sinetron Cinta Fitri 2, what a f**kin' loser...tepuktangan. Secara prinsip, saya tak suka sinetron dan banyak acara-acara norak lainnya. Tapi apa daya? Menurut saya, acara-acara seperti itu memang bukan ditujukkan untuk saya atau dalam bahasa marketingnya, saya bukan target market mereka.encem

Lantas, sebenarnya apa yang terjadi? Kalau menurut saya, hal itu semata-mata merupakan kepentingan bisnis semata. Harus diakui dan ditekankan, bahwa sebenarnya, tujuan para pengusaha untuk mendirikan stasiun televisi itu adalah mencari laba. That are a lot of bull shits kalo mereka ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalo mencari laba sambil mencerdaskan kehidupan bangsa, itu mungkin. Tapi tetap saja, laba perusahaan adalah target utama mereka. Salahkah mereka? Dari sudut pandang korporat, jelas tidak. Tapi dari sudut pandang stakeholder? ntar dulu. ihikhik

Begini, kalo menurut saya, segala sesuatu yang mereka (stasiun TV) lakukan adalah berdasar pada riset yang sudah mereka lakukan terhadap target audience mereka. Paling tidak, mereka pasti mempelajari tentang demografi penduduk Indonesia, mulai dari aspek usia, pendapatan, pendidikan, struktur penduduk, kriteria pembelian produk, dan berbagai perilaku konsumen lainnya. Juga tak ketinggalan mengenai analisa pesaing mereka. Hal itulah yang telah tertuang dalam produk yang telah mereka tawarkan sekarang. Nah, maka dari itu, kita nggak bisa seenaknya memprotes mereka kan? takbole

Coba deh kita bahas satu per satu aspek. Dari aspek konsumen, saya akan coba membahas dari empat variabel yang mendukungnya. Yang pertama adalah variabel usia. Gambaran konkrit dari variabel ini ada di struktur piramida penduduk di Indonesia. Berikut saya lampirkan piramida penduduk Indonesia dalam 3 sensus penduduk terakhir dari data BPS:



Gambar piramida penduduk Indonesia tahun 2000 sebagaimana tertera di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berada pada kelompok umur dibawah 9 tahun sudah mulai berkurang karena penurunan jumlah kelahiran selama 10 tahun yang lalu. Kecuali usia 10-14 tahun, jumlah penduduk diatas 9 tahun menunjukkan jumlah yang membengkak pada badan priamida penduduk. pembengkakan jumlah penduduk hanya terjadi hingga range 15-19 tahun (23-27 tahun, usia sekarang). Berarti, boleh dikatakan kalau baby boomers di Indonesia terjadi pada angkatan 9-19 tahun untuk periode 2000 yang berarti 17-27 tahun saat ini. Jika dikembaliin ke tahun kelahiran, maka generasi tersebut adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-1991. Lantas bagaimana tentang generasi diatas 1993? Generasi tersebut tidak lebih banyak daripada generasi 1981-1991 karena terjadi penurunan tingkat fertilitas semenjak 1991. Berikut adalah tabel nya yang saya comot dari BPS (lagi) :



So, dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa kelompok umur terbesar adalah usia 17-27 tahun saat ini. Jika diperkecil lagi, kelompok umur 17-22 tahun adalah yang paling besar.

Pihak televisi tampaknya jeli dengan hal itu. Mereka menyasar pasar yang sangat potensial yaitu 17-27 tahun alias pasar anak muda. Maka dari itu, jangan kaget jika saat ini begitu banyak sinetron-sinetron remaja karena memang itulah pengganti tontonan "wajib" anak-anak jaman kita seperti Batman, Superman, KBH, dll. Mereka sudah tumbuh berkembang menjadi remaja.

Lantas, bagaimana dengan tontonan anak-anak yang semakin minim? Jelas, tingkat fertilitas penduduk yang cenderung menurun memperlihatkan semakin mengecilnya kue pasar bagi anak-anak. Hal ini tampaknya sudah diantisipasi oleh pihak TV. Secara common sense, kebanyakan orang jaman sekarang tidak mau terburu-buru punya anak karena berbagai pertimbangan, seperti biaya, waktu, usia, karier, dll.

Lantas, bagaimana dengan sinetron-sinetron khas yang kurang bermutu? Nantikan tulisan saya berikutnya... (hehehe... kayak pakar aja...) :sinchan
Read the full story

Selamat Buat Erwin Aksa Sebagai Ketua Baru HIPMI

2008-07-21 1 comments


Wow, finally :~. Sandiaga Uno memiliki suksesor. Adalah Erwin Aksa, yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) Bosowa Group yang melanjutkan posisinya sebagai ketua HIPMI alias Himpunan Pengusaha Muda Indonesia periode 2008-2011. Dalam pemilihan yang dilangsungkan melalui pemungutan suara di Musyawarah Nasional HIPMI ke-13 di Nusa Dua, Minggu sore tersebut, Erwin meraih 104 dari 165 suara yang sah. Dia ngalahin Novita Dewi yang dapet 34 suara dan Ridwan Mustofa 27 suara.

Selanjutnya, Erwin akan membentuk dewan formatur. Susunannya, Erwin sebagai ketua formatur, Sandiaga S Uno sebagai Mid Formatur. Merekalah bertugas menyusun kepengurusan yang baru di DPP HIPMI. Lebih kerennya lagi, dalam sejarah HIPMI, Erwin adalah Ketua Umum pertama yang berasal dari luar Jakarta (BPD Sulawesi Selatan)


Sebenernya, siapa sih Erwin Aksa? Erwin adalah putra sulung dari HM Aksa Mahmud, Pimpinan MPR RI 2004-2009, mantan Direktur PT Bumi Karsa (Kalla Group) (1968-1985) dan Presiden Direktur Bosowa Group (1985-2004) yang lahir di Makassar, 7 Februari 1975.

Pertanyaannya, kapan ya saya bisa seperti mas Erwin Aksa? It's not just fantasy, it's my dream & obsession... :d


Read the full story

Bicara Tentang Industri Televisi di Indonesia (Part 1)

2008-07-20 6 comments

Entah mengapa, hidup saya tidak bisa terlepas dari apa yang namanya Televisi. Mungkin kebutuhan saya akan informasi, baik yang sifatnya penting sampai yang nggak penting sama sekali kayak infotainment (uuuuhhh... I hate it... so much... :#) merangsang ketergantungan saya pada televisi. Memang, media internet lewat google dan wikipedia-nya sudah memberikan banyak hal, tapi, kayaknya ada yang kurang kalo nggak nonton TV

Emang sekarang stasiun TV, khususnya di Jakarta udah bejibun. Mulai dari yang tua-tua kayak RCTI, SCTV, TVRI, dll hingga stasiun lokal kayak Jak TV dan O-Channel. Segala stasiun ini pun punya segmen yang spesifik. Misalnya RCTI dan TPI khusus buat pembantu, SCTV diperuntukkan buat para ABG yang masih norak, INDOSIAR buat tukang jualan warteg, atau METRO TV yang dengan idealisnya menyasar kalangan yang lebih educated, dan banyak lagi.

Saya sendiri nggak akan ngomongin tentang segmenting yang sudah dilakukkan oleh para stasiun TV itu karena itu mah urusan mereka. Cuman yang menarik adalah fenomena akuisisi yang terjadi akhir-akhir ini. Setelah RCTI, TPI, dan Global "berjuang" di bawah bendera MNC, November tahun lalu giliran TV7 yang bermetamorfosis menjadi Trans7 dan bergabung sama Trans TV di bawah panji Trans Corp. Harus diakui kalo telah terjadi pergeseran struktur pasar lantaran konsolidasi modal yang dilakukan melalui akuisisi diatas. Tapi, entah kenapa ya saya ngelihat ada peluang monopoli? :t

Coba deh liat, dari AC Nielsen, market share MNC (RCTI, Global TV & TPI) mencapai 35%. Diikuti Trans Corp (Trans TV & Trans 7) sejumlah 20%, SCTV dengan 16%, ANTV dan Lativi (Sekarang TV-One) 13% serta Indosiar 12%. Untuk pendapatan iklannya, MNC dapet 33%, Trans Corp 23%, SCTV 12%, Lativi 8% dan ANTV 8%. Bisa dibayangin, betapa susahnya stasiun TV kayak ANTV buat berkembang lantaran dijepit para Goliath. :d



Emang sih, sementara kekuatan itu masih berimbang dan kemungkinan terjadinya monopoli masih terlalu jauh. Menurut UU No 5 Tahun 99 tentang monopoli kalo nggak salah, disebutin bahwa pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa utawa monopoli apabila satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. Tapi peluang kearah sana udah ada. Apalagi kalo MNC berniat mengakuisisi para David yang nyaris terkapar. Tapi biarlah KPPU yang menilai, bukankah mereka cukup jago buat nangkepin para penjahat pasar?

Hehehe... meski demikian, apa yang telah terjadi di industri TV di Indonesia itu adalah sesuatu yang bagus dan harus ditiru, terutama buat Industri Asuransi dan Pesawat Terbang. Ketika sadar kue pasar akan mengecil (karena masuknya pemain dari TV Kabel), mereka bersatu menggabungkan kekuatan yang menghasilkan market leader yang bikin industri jadi nggak terlalu ketat sehingga hal-hal seperti mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan utilitas konsumen bisa direduksi. Perlu diingat, industri ini memiliki potensi diferensiasi yang besar, nggak seperti industri selular ataupun Rumah Makan Padang di Depok yang hanya sebatas harga alias perang tarif. :p

Apa Kabar TVRI?
Dari tadi udah ngomongin yang swasta, sekarang TVRI sendiri gimana? Wah nggak tau sih gua, abis udah nggak pernah nonton TVRI lagi. Terakhir kali gue nonton, tampilannya masih jadul. Ya, semoga TVRI nggak kayak pertamina, yang cuman ngejual nasionalisme doang... lantaran kualitasnya dipertanyakan...
Read the full story

Je voudrais te remercier de m'avoir montré cela

2008-07-19 0 comments

Isi artikel ini mungkin bisa berubah setiap saat selama blog ini masih menerima penghargaan.


Bulan Juni 2008 lalu saya kembali membangunkan blog ini dari hibernasinya selama satu tahun lebih. Dan puji tuhan, hingga kini saya sudah mendapatkan cukup banyak penghargaan dari teman-teman semuanya. Penghargaan-penghargaan itu antara lain sebagai berikut:

  1. Award pertama pada tanggal 24 Agustus 2008 datang dari Bang Panda dalam postingannya disini. Saya mendapatkan award ini karena cukup rajin "ngeronda" ketempat beliau.



  2. Award kedua datang pada tanggal 7 September 2008 lalu dari Mbak Delia dalam postingannya disini. Sama seperti award pertama, award ini juga adalah hasil ngeronda.



  3. Award ketiga datang pada tanggal 15 September 2008 lalu dari Bunda Rierie dalam postingannya disini. Alasannya tiada lain tiada bukan karena sering ngeronda.



  4. Award keempat datang pada tanggal 16 September 2008 lalu dari Bang Herro dalam postingannya disini. Saya sangat tersanjung karena beliau memberikan award ini dikarenakan saya selalu menampilkan postingan dengan kata-kata yang berkelas dan mudah dicerna.



  5. Award kelima datang pada tanggal 17 September 2008 lalu dari Kang Ebleh dalam postingannya disini. Disinyalir beliau memberikan award ini karena saya cukup sering ngeronda.



  6. Award keenam datang pada tanggal 19 September 2008 dari mas Enhal dalam postingannya disini. Beliau memberikan award ini karena saya tidak pernah sombong dan selalu memberikan share dan motivasinya kepadanya. (ihik... gue ga sombong :p)



  7. Award ketujuh datang pada tanggal 23 September 2008 dari Mas Qori dalam postingannya disini. Beliau mengatakan bahwa saya mempunyai blog yang up to date dengan pemikiran pemikiran beliau yg selalu memperhatikan bangsa ini.



  8. Award kedelapan datang pada masa hiatus tanggal 17 Oktober 2008 dari Mbak Acy dalam postingannya disini. Beliau mengatakan bahwa saya orangnya sudah urun kritik. Hehehehe



  9. Award kesembilan datang lagi dari Bang Herro pada tanggal 1 November 2008 dalam postingannya disini.



  10. Award kesepuluh datang dari Bang Keris pada tanggal 8 November 2008 dalam postingannya disini.



Saya mengucapkan terima kasih banyak buat semua penghargaan yang dialamatkan kepada saya. Saya selalu menganggap penghargaan-penghargaan tersebut adalah wujud dukungan dan rasa persahabatan dari rekan-rekan semuanya di dunia blogosphere ini. Saya jadi merasa tersanjung karenanya.


Salam,





Catatan: Maaf, form komentar saya tutup karena halaman ini bisa berubah setiap saat. Read the full story