Bicara Tentang Industri Televisi di Indonesia (Part 2)

2008-07-22 Leave a Comment

Ada kalanya kita bertanya-tanya, kenapa sih kok sekarang banyak banget sinetron-sinetron yang bertebaran di layar kaca? Dan kebanyakan diantaranya adalah sinetron bertemakan ABG. Terus, kemana perginya tayangan-tayangan kartun di TV yang selalu menghibur generasi 90's setiap sore dan minggu? Mengapa kok industri televisi di Indonesia kualitas acaranya jelek? Dan mengapa stasiun TV seperti METRO TV yang menjaga kualitas acaranya sehingga mencerdaskan kehidupan bangsa justru kembang kempis menyelamatkan diri dari kebangkrutan? Kenapa juga kok banyak banget iklan di TV yang sifatnya norak?? Dan terakhir, kenapa masih ada aja yang berpartisipasi sebagai korban perampasan pulsa dengan melakukkan REG[Spasi]XXXX?? Hayo... kenapa hayo...? soalsoalsoal

Memang itulah realita yang ada dalam dunia pertelevisian Indonesia. Budaya menonton acara-acara yang informatif di era 90-an seolah lenyap memasuki akhir dasawarsa ke 200 ini. Kini? Tiada hari tanpa sinetron bukan? Bahkan, seorang teman saya alumni Teknik Mesin UI angkatan 2003 masih setia menonton sinetron Cinta Fitri 2, what a f**kin' loser...tepuktangan. Secara prinsip, saya tak suka sinetron dan banyak acara-acara norak lainnya. Tapi apa daya? Menurut saya, acara-acara seperti itu memang bukan ditujukkan untuk saya atau dalam bahasa marketingnya, saya bukan target market mereka.encem

Lantas, sebenarnya apa yang terjadi? Kalau menurut saya, hal itu semata-mata merupakan kepentingan bisnis semata. Harus diakui dan ditekankan, bahwa sebenarnya, tujuan para pengusaha untuk mendirikan stasiun televisi itu adalah mencari laba. That are a lot of bull shits kalo mereka ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalo mencari laba sambil mencerdaskan kehidupan bangsa, itu mungkin. Tapi tetap saja, laba perusahaan adalah target utama mereka. Salahkah mereka? Dari sudut pandang korporat, jelas tidak. Tapi dari sudut pandang stakeholder? ntar dulu. ihikhik

Begini, kalo menurut saya, segala sesuatu yang mereka (stasiun TV) lakukan adalah berdasar pada riset yang sudah mereka lakukan terhadap target audience mereka. Paling tidak, mereka pasti mempelajari tentang demografi penduduk Indonesia, mulai dari aspek usia, pendapatan, pendidikan, struktur penduduk, kriteria pembelian produk, dan berbagai perilaku konsumen lainnya. Juga tak ketinggalan mengenai analisa pesaing mereka. Hal itulah yang telah tertuang dalam produk yang telah mereka tawarkan sekarang. Nah, maka dari itu, kita nggak bisa seenaknya memprotes mereka kan? takbole

Coba deh kita bahas satu per satu aspek. Dari aspek konsumen, saya akan coba membahas dari empat variabel yang mendukungnya. Yang pertama adalah variabel usia. Gambaran konkrit dari variabel ini ada di struktur piramida penduduk di Indonesia. Berikut saya lampirkan piramida penduduk Indonesia dalam 3 sensus penduduk terakhir dari data BPS:



Gambar piramida penduduk Indonesia tahun 2000 sebagaimana tertera di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berada pada kelompok umur dibawah 9 tahun sudah mulai berkurang karena penurunan jumlah kelahiran selama 10 tahun yang lalu. Kecuali usia 10-14 tahun, jumlah penduduk diatas 9 tahun menunjukkan jumlah yang membengkak pada badan priamida penduduk. pembengkakan jumlah penduduk hanya terjadi hingga range 15-19 tahun (23-27 tahun, usia sekarang). Berarti, boleh dikatakan kalau baby boomers di Indonesia terjadi pada angkatan 9-19 tahun untuk periode 2000 yang berarti 17-27 tahun saat ini. Jika dikembaliin ke tahun kelahiran, maka generasi tersebut adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-1991. Lantas bagaimana tentang generasi diatas 1993? Generasi tersebut tidak lebih banyak daripada generasi 1981-1991 karena terjadi penurunan tingkat fertilitas semenjak 1991. Berikut adalah tabel nya yang saya comot dari BPS (lagi) :



So, dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa kelompok umur terbesar adalah usia 17-27 tahun saat ini. Jika diperkecil lagi, kelompok umur 17-22 tahun adalah yang paling besar.

Pihak televisi tampaknya jeli dengan hal itu. Mereka menyasar pasar yang sangat potensial yaitu 17-27 tahun alias pasar anak muda. Maka dari itu, jangan kaget jika saat ini begitu banyak sinetron-sinetron remaja karena memang itulah pengganti tontonan "wajib" anak-anak jaman kita seperti Batman, Superman, KBH, dll. Mereka sudah tumbuh berkembang menjadi remaja.

Lantas, bagaimana dengan tontonan anak-anak yang semakin minim? Jelas, tingkat fertilitas penduduk yang cenderung menurun memperlihatkan semakin mengecilnya kue pasar bagi anak-anak. Hal ini tampaknya sudah diantisipasi oleh pihak TV. Secara common sense, kebanyakan orang jaman sekarang tidak mau terburu-buru punya anak karena berbagai pertimbangan, seperti biaya, waktu, usia, karier, dll.

Lantas, bagaimana dengan sinetron-sinetron khas yang kurang bermutu? Nantikan tulisan saya berikutnya... (hehehe... kayak pakar aja...) :sinchan

3 comments »

  • Anonymous said:  

    setuju mas, kalo masalah rating sebenarnya banyak yang meragukan karena rating TV di indonesia itu "monopoli"nya Nielsen Media Research dan setau saya blum pernah ada yang mengauditnya, tapi di luar itu saya pikir kualitas sinetron kita memang menggambarkan selera buruk masyarakat indonesia, sama halnya ketika dalam pemilu masih banyak masyarakat yg masih memilih partai golkar....ya gak?

  • Anonymous said:  

    :)) cieee yang nulis pake statistik... tapi bener kok fa... acara tv di indonesia tuh terkenal jeleknya, bahkan temenku orang Belanda bilag gitu :p

  • Fajar Indra said:  

    @ fajrin :
    Iya tuh ... bener... si Nielsen emang patut dipertanyakan... kalo golkar?? hihihi... nggak berani gue... udah mau 2009 nih :p

    @ florence :
    Iya iyalah... kan saya Berbeda sama Roy Suryo ^_^

  • Leave your response!

    Mohon untuk menyertakan nama dan identitas (alamat web) jika ingin berkomentar. Jika anda ingin ber-anonim, mohon cantumkan email dan nama anda.