Mengurangi Resiko Pembajakan di Industri Kaset

2008-07-10 Leave a Comment



"Selayakkah engkau tahu
Betapa ku mencintaimu
Kau terangkanku dari mimpi burukku

Selayakkah kau mengerti
Betapa engkau kukagumi
Kau telah tinggal dalam palung hati"
(Kangen Band - Usai Sudah)

Lagu diatas adalah cuplikan dari lirik sebuah band yang dipuja sekaligus dicaci yaitu Kangen Band, sebuah band yang mengawali kariernya dengan menjadi anggota indie band Lampung dan sempat menggelegarkan dunia permusikan Indonesia beberapa waktu lalu. Band ini dipuja oleh sebagian kalangan di Indonesia lantaran lagunya yang easy listening tapi juga dibenci lantaran dianggap "menodai" seni dan musikalitas yang tinggi dalam membuat lagu.

Well, saya sendiri tak mau berpihak ke salah satu kalangan meski secara pribadi, saya tidak menyukai band-band yang terlalu easy listening (dalam bahasa saya: low-end). Tapi apa yang terjadi di dunia musik Indonesia memang benar-benar unik dimana saat ini, nyaris terjadi penurunan kualitas dari musik itu sendiri. Saat ini, sulit ditemui lirik yang sepuitis Katon Bagaskara, nada-nada yang menyentuh kalbu karya Ebiet G Ade, dan romantisme ala Glenn Fredly dan Melly Goeslaw. Yang ada hanyalah lagu-lagu based on "gitar kerompong" karya Radja, Kangen Band, Merpati Band, dan banyak lagi.

Memang tidak salah jika menilik demografi masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah penikmat musik-musik easy listening. Cobalah kita tengok ke daerah-daerah, tanyalah kepada anak muda disana, apakah mereka bisa menikmati musik jazz seperti Tompi. Kalaupun iya, persentasenya mungkin sangat sedikit. Bisa dimaklumi, buat mikirin kehidupan sehari-hari saja sudah pusing, apalagi buat mencerna lagu-lagu jazz milik Tompi ataupun Bunglon. Dan mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa lagu bunuh diri yang memiliki banyak versi baru-baru ini begitu populer dikalangan pengamen jalanan :)

Mudah Bosan

Terlebih, jaman sekarang hanya dengan satu single saja yang nge-hits, sudah cukup untuk membuat populer sebuah grup band ataupun penyanyi. Hal ini diungkapkan oleh pentolan grup band Dewa, Dhani Achmad. Maka dari itu, dia pun merasa bahwa lagu-lagunya di album Bintang Lima dan Cintailah Cinta adalah sebuah pemborosan. Dhani memang terlihat taktis membaca pasar. Tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan pasar?

Bagaimana kita tidak bosan, lha wong sekarang kita dihadapkan dengan pilihan yang banyak dalam mendengarkan musik dengan format MP3, terutama bagi mereka yang telah "mengenal" komputer. Coba bandingkan dengan 5-10 tahun yang lalu ketika untuk mendengarkan lagu kesayangan kita mesti memiliki kasetnya dengan merogoh kocek 20 ribuan dan harus rela mendengarkan seluruh isi lagu dalam kaset sehingga lagu-lagu tersebut benar-benar "ngelotok" di otak kita. Sekarang? Boro-boro beli kaset, hanya sekali download di kost-an saja sudah bisa didapatkan lagu-lagu itu dengan cuma-cuma. Alhasil, kita tak melakukan "pengorbanan" yang signifikan untuk mendapatkan barang itu, sehingga "rasa cinta" kita terhadap sebuah lagu pun nggak "everlasting".

Memang, ada yang mengatakan bahwa fasilitas download gratis itu juga dilakukan oleh pihak major label sebagai sarana pemasaran produknya. Tapi jika kita lihat lagi, biaya yang harus dikeluarkan sangat besar, mulai dari biaya nominal (iklan, promosi, dsb) hingga biaya kehilangan kesempatan lantaran alih-alih membeli kaset, para konsumen justru malah berlomba mendownload-nya secara gratis! Contoh kasus terakhir adalah saya sendiri :D

Memaksimalkan Kaum Low-End

Jika memang seperti itu adanya, menurut hemat saya, para major label itu sudah memiliki perhitungan tersendiri mengenai resiko pemasaran (baca:pembajakan) yang akan mereka alami. Resiko ini tak bisa atau sulit untuk dihilangkan karena selain menjadi senjata ampuh pemasaran, kecenderungan para maniak download seperti saya untuk berhenti mencari link download gratisan sangat impossible. Satu hal yang saya sadari adalah pergeseran target pasar oleh para major label.

Simpelnya begini, taruhlah kita bagi segmen pasar ini menurut tingkat perekonomiannya. Ada golongan elit (high-end), menengah keatas (middle-up), menengah kebawah (middle-low), dan kalangan bawah (low-end). Bagian mana yang paling berpotensi mengurangi pendapatan perusahaan dengan aktivitas download-nya? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, maka saya akan menjawab bagian menengah, entah itu keatas ataupun kebawah. Mengapa? Pertama dari sisi akses, mereka mungkin menghadapi internet sedikitnya 4-8 jam sehari. Dan untuk melakukan download, hal itu tidak sulit bagi mereka. Kedua adalah masalah ongkos, bagi saya, mengapa harus repot-repot membeli CD asli dengan harga paling nggak 35000 jika di indowebster saja tersedia gratis...tis...tis...tis...

Namun, bukankah golongan elit juga memiliki akses yang sama? bahkan lebih? Itu memang benar, namun biasanya, mereka cenderung "menghargai" produk-produk bikinan orang karena tak ada pembatasan biaya untuk mereka. Kalaupun mereka memang mencintai lagu tersebut, biasanya mereka langsung membeli CD atau kaset di toko kaset terdekat. Rata-rata tak ada kamus bajakan dalam kehidupan mereka karena hal itu berkaitan dengan gengsi.

Lantas bagaimana kaum low-end? sebenarnya agak spekulatif saya menulis disini karena tulisan saya hanya berlandaskan common-sense belaka. Begini ceritanya, rata-rata mereka tidak mempunyai akses ke internet sebesar kaum diatasnya, bahkan mengenal internet pun mungkin tidak. Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk menyukai lagu-lagu yang tengah beredar. Karena cinta itu buta, tak jarang bagi mereka untuk mengorbankan segala sesuatunya demi cinta. (hehehe... what a bull shit...). Tapi justru hal itu yang menghadirkan potensi pendapatan bagi perusahaan. Pasar low-end di Indonesia, menurut saya adalah yang terbesar di republik ini.

Ya, pengorbanan mereka itu mungkin menghadirkan inelastisitas kaset. Tampaknya hal ini sudah terbaca oleh kalangan musisi dan major label sehingga, kebanyakan lagu yang hadir saat ini adalah lagu-lagu yang mudah untuk didengarkan dan "dimasukkin" ke otak. Dan itulah karakteristik orang low-end. Pihak produsen tampak mengalihkan target mereka dari masyarakat menengah menjadi masyarakat bawah. Mereka memanjakan target barunya dengan lagu-lagu yang sesuai dengan karakter mereka.

Mengurangi Resiko Pembajakkan

Lantas, apa hubungannya dengan resiko pembajakkan? Resiko pembajakkan yang saya maksud disini adalah seberapa besar persentase pembajakkan dapat mengurangi kemungkinan pendapatan perusahaan. Kalangan atas memiliki segmen yang begitu spesifik dan biasanya, mereka cenderung menyukai produk-produk barat. Kalangan ini saya kira tak terlalu bermasalah untuk menghadirkan pendapatan. Kalangan menengah pun sangat sulit dikendalikan. Alhasil dari kalangan bawah lah, saat ini masih bisa diharapkan untuk menambang pendapatan yang lebih besar lagi. Sehingga, resiko pembajakkan yang bisa mengurangi jumlah pendapatan, bisa di"hedging" dengan maksimalisasi pasar low-end. Hanya saja, terkadang hal ini masih dapat dimentahkan dengan kecenderungan mereka membeli VCD bajakan. Jadi, bagi anda yang bosan dengan lagu-lagu yang ada sekarang, jangan salahkan pihak perusahaan rekaman dan musisi karena pasarlah yang memaksa mereka untuk seperti ini.


Salam,

0 comments »

Leave your response!

Mohon untuk menyertakan nama dan identitas (alamat web) jika ingin berkomentar. Jika anda ingin ber-anonim, mohon cantumkan email dan nama anda.