Sulitnya Menjadi Manusia di Indonesia

2008-09-11 Leave a Comment

Di dalam artikel ini akan anda dapatkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.


Dalam sebuah kesempatan pada kuliah Perekonomian Indonesia beberapa waktu lalu, sang dosen yang juga merupakan guru besar ekonomi Profesor Dorojatun Kuntjarajakti pernah mengatakan bahwa jika dalam sebuah negara yang maju, maka semua aspek yang berkaitan dengan negara tersebut, mulai dari aspek politik, ekonomi, budaya, olahraga, dan (bahkan) kriminal pun serta merta akan maju. Begitu pula yang terjadi di negeri bar-bar, segala sesuatunya pun akan menjadi bar-bar. Dan tampaknya, statement terakhir Pak Djatun berlaku di Indonesia. Betapa tidak, segala sesuatu yang terhubung dengan bangsa ini menghadirkan sebuah kesan yang buruk. Mulai dari sisi politik, ekonomi, bisnis, sosial, hingga olahraga. Tak terhitung lagi berapa kali kegagalan republik ini dalam mengarungi kehidupan.

Dari segi bisnis misalnya, dalam survey "Doing Business 2009" yang dilakukan oleh International Finance Corporation baru-baru ini, Indonesia menempati urutan ke 129 dari 181 negara di dunia yang di survey dalam hal kemudahan mambangun dan menjalankan bisnis. Hal ini jauh dari pencapaian negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang masing-masing berada di peringkat 13 dan 20 dunia. Singapura? apa lacur, mereka justru berada di rangking 1 dunia. Diatas Selandia Baru dan Amerika Serikat. Peringkat selengkapnya bisa dilihat disini. Disinyalir, hal ini terjadi karena birokrasi di Indonesia yang jauh dari kata efisien dan sebuah peraturan tentang persyaratan modal disetor minimum yang tercantum dalam UU no 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa persyaratan mendirikan usaha baru memerlukan dana minimum Rp 12,5 juta atau naik Rp 7,5 juta dari UU sebelumnya. Menurut Perwakilan IFC untuk Indonesia Adam Sack, aturan Indonesia ini lebih tinggi 100 persen dibandingkan Kawasan Asia. Di satu sisi hal ini memang sangat baik untuk meminimalisir resiko solvabilitas yang ada, namun disisi lain hal ini juga menghadirkan barrier to entry bagi para pengusaha "nanggung" yang memiliki modal pas-pasan untuk menjalankan bisnisnya. Maka, jangan heran jika sektor riil di Indonesia tidak berkembang seperti jalan tol.

Lalu dari sisi politik. Terus terang saya kurang suka membahas sisi yang satu ini. Bangsa ini masih bar-bar dalam hal berpolitik. Tidak ada kata elegan dan altruistik dalam kamus para politisi. Bahkan saya cenderung berpikir, bahwa orang yang mengambil jalur politik ini hanyalah orang-orang yang gagal di jalur profesional. Kejadian memalukan seperti insiden penyerangan sepihak karena kalah dalam bertarung sudah merupakan hal yang umum. Memang, sabda sang nabi besar John Forbes Nash alahis salam tentang Prisoner's Dilemma menyebutkan bahwa kita tidak boleh percaya pada semua pihak. Namun apa jadinya jika setiap keputusan yang ditelurkan oleh sebuah instansi itu dianggap dipolitisasi? Coba anda lihat dua kasus terbaru dari Gus Dur dalam "sengketa PKB-nya"[1] dan Fraksi PDIP yang kalah dalam pilwagub Sumatra Selatan[2]. Mereka semua adalah contoh manusia katrok yang nggak bisa dengan lapang dada menerima kekalahan. Tidak ada lagi wajah pahlawan seperti Hillary Clinton yang justru mengakui kekalahannya dengan sportif dan malah membantu Barack Obama untuk menjadi calon presiden AS.

Dari sisi Olahraga lebih menjengkelkan lagi. Lihatlah, betapa "hebatnya" Indonesia ketika berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan beberapa waktu lalu. Ya, jangankan untuk berprestasi, untuk sekedar bermain bagus dan sportif saja tidak bisa. Kerusuhan disana-sini, pelanggaran keras berupa tackling yang benar-benar mematikan masih sering terpampang di layar kaca. Belum lagi kelakuan si bangsat Nurdin Halid bersama (maaf) para anjing-anjing penjilatnya seperti Mafirion dan Nugraha Besoes di organisasi PSSI. Anda pasti sudah tahu bahwa sanga ketua PSSI Nurdin Halid masih memimpin PSSI meskipun sekarang ia tengan dipenjara akibat tersandung kasus penyulundupan gula impor ilegal, dan korupsi dana pengadaan minyak goreng juga impor beras Vietnam yang dilakukannya tahun 2004 lalu. FIFA sudah memperingatkan PSSI untuk segera mengganti ketuanya, namun apa daya, alih-alih mengganti sang puan, PSSI justru melakukan manuver untuk mempertahankan sang puan Nurdin di tampuk kepemimpinan. Kabar terbaru mengatakan bahwa puan bisa mengajukan diri lagi![3] Bayangkan, organisasi sebesar PSSI dipimpin oleh seorang narapidana. Bagaimana bisa maju ?marah

Dari sisi sosial dan hiburan, pengaruh sinetron di Indonesia sedemikian besarnya kepada jiwa anak-anak muda jaman sekarang. Saya memiliki tetangga seorang artis figuran, dia bahkan rela mengorbankan kuliahnya demi karier di dunia akting. Bukannya saya menyalahkan hal ini, tetapi opportunity cost yang besar dalam bentuk menuntut ilmu telah hilang. Coba anda lihat Cina dan Malaysia, mereka sangat concern terhadap perkembangan pendidikan. Tahun 90an awal, mereka masing-masing masih merupakan negara berkembang dan negara dunia ketiga. Sekarang? Mobilitas vertikal telah terjadi sedemikian cepatnya dalam dua negara tersebut. Yang justru menjadi negara dunia ketiga sekarang adalah Indonesia. Lihat saja, sinetron-sinetron katrok dan konyol justru laku keras di Indonesia, acara-acara yang mengandung unsur informasi malah kesulitan mencari iklan. Ya, kualitas acara yang ditonton memang mencerminkan kualitas penontonnya bukan? Harus diakui, bangsa ini menggunakan TV hanya untuk hiburan semata, tidak seperti bangsa Jerman maupun AS yang memposisikan TV sebagai sumber informasi.

Hmmm... sebenarnya masih banyak lagi kekecewaan saya terhadap bangsa ini yang jika saya tulis bakalan panjang sekali. Akhirnya saya mengerti, mengapa para cendekiawan selevel BJ Habibie tidak akan pernah tumbuh lagi di Indonesia. Sekali lagi, saya setuju dengan Pak Djatun, Jika sebuah negeri itu bar-bar, maka semua aspeknya juga akan menjadi bar-bar, dan itulah Indonesia. Huh, memang sulit menjadi manusia maju di Indonesia. Dan buat kakak saya yang sudah mulai kedinginan di Hamburg, "Akhirnya aku ngerti banget, mengapa sampean memilih istri dari Finlandia, hehehehe"


Salam,






[1] http://news.okezone.com/
[2] http://news.okezone.com/
[3] http://www.detiksport.com

Gambar diambil tanpa ijin dari Antobilang

44 comments »

  • Tukang Nggunem said:  

    Hetriiiiiixxxx....
    Wahahahaha...aku bisa mencetak hetrik disini....
    Posting ini nampaknya agak berkaitan dengan obrolan singkat kita sore tadi bro, hahaha...lha piye? rame2 bedol deso pindah negoro wae piye?hahaha
    Persetan dengan nasionalisme, gimana mau nasionalis kalo negaranya sendiri sama sekali gak bisa dibanggakan...hhhh....sori melu esmosi aku...

  • banglul said:  

    Keempaaattt!! 8-}

    Haduhh, saya setuju di sisi politiknya om! :D

  • dugem said:  

    kalau udah membudaya emang susah mo diapa2in juga semua tergantung individunya, mau ga dimulai dari diri sendiri ? saya ikut setuju aja deh daripada benjol..

  • acy said:  

    indonesia tahu juga nich kenapa bisa kayak orang barbar gini, tiap kalah bertanding pasti maen keroyok, apa nggak bisa yaw sekali2 bangsa ini bersikap sportif :)

  • david said:  

    wah, saya jadi mengelus dada atas nasib bangsa ini

  • eeda said:  

    Keconcernan anda saya kira juga menjadi keconcernan kita semua. Jujur saja saya sebenarnya pesimistis pemilu 2009 akan membawa perubahan yg lebih baik.
    Bagaimana para wakil kita nanti akan memikirkan kemajuan bangsa dan rakyat, wong tujuan mendirikan partainya saja sudah nggak tulus. Perekrutan calegnya saja sudah berbau money politic (jual beli nomor urut), not to mention kualitas calegnya yang amat sangat diragukan.
    Kl kenyataannya kl gitu, lantas apa yg bisa kita harapkan? Apakah bangsa ini diambang kehancuran? tentu bukan itu yg kita harapkan.
    Saya tidak menyalahkan banyak orang Indonesia yang mencari penghidupan di negara lain. Anggapan ''Lebih baik hujan batu di negara sendiri daripada hujan emas di negara orang lain'' sudah tidak berlaku lagi.

  • Panda said:  

    kondisi bangsa emang lg terpuruk, tp Panda kok optimis yah bangsa ini bisa bangkit ? asal semua elemen bangsa bersatu, setuju bung ?

    sip bang postnya! btw, kakaknya beristri Finlandia. Anda ntar beristri orang mana nih ? :D

  • aha said:  

    emang kita harus optimis.. di dalam keterpurukan bangsa ini bos.. (nyambung nggak? he2)

  • enhal said:  

    Wah komplit bangeet neh analasisnya..Siip Nice Artikel..

  • gus said:  

    bersatulah orang2 yang menginginkan indonesia lebih baik. kita pilih Kang Fajar Indra jadi Capres Blogger ...

  • Syamsul Alam said:  

    Ngakak plus nangis saya baca postingan bang Fajar.....

    Betapa malang nasibku hidup di tanah air....

    Tapi ga papa... masih ada mas Fajar yang setia menemani,

    tehehehehe....

  • EbleH 182 said:  

    Memang sulit. Lha terkenal dikit banyak yang kritik..Udah terkesan baik, eh malah di cari kesalahan.. Bingnug kan jadinya..

  • Muhammad Qori said:  

    walaupun begitu ,aku bangga jadi anak bangsa indonesia :)

  • Ryan said:  

    susah emang di indonesia,begini salah,begitupun salah :|

  • papapam traffic said:  

    keterpurukan yg dialami bangsa ini, perlu dihadapi dg lapang dada dan dibangun dg sekuat bangsa oleh anak negri

  • Bunda Rierie said:  

    endonesia tanah airku..tanah tumpah darahku..(nyanyinya aja salah, harusnya in kok jadi en..gimana mau cinta? he.he)

  • Oeoes said:  

    ikutan kang gus memlilih fajar indra jadi capres blogger

  • herro said:  

    Yah, begitulah keadaan saat ini. saat berkunjung ke blognya wa0nez ada sebuah artikel yang mungkin bisa dikaitkan dengan postingan ini.
    Btw, logonya bagus jg tuh. saya lg cari2 ide untuk bikin logo buat logo desainer contest. temanya "Kemandirian Olahraga Nasional".

  • else said:  

    ya ya ya saya tau... fajar indra mo cari istri dari finlandia, pokoke luar negeri ya ndra?

    kabuuuuuuuuur, sebelum indra ngronda.

    sep postinganmu, matanya atu dhak bica dhak baca potingan di blog ini (terjemahin sendiri ya ndra)

    asyik juga ngrusuhi blog ini :D

  • de-MOCRAZY NANOQ DA KANSAS said:  

    Fajar yang baik, kalo boleh aku memakai istilah "kita', bahwa kita percaya cukup banyak anak bangsa ini yang punya keprihatinan, kekecewaan, kekritisan dan kecintaan sepertimu dan juga seperti Pak Djatun untuk negeri ini. Tetapi begitulah, entah kenapa, hal yang baik ini selalu terbentur dan menguap entah kemana, dan negeri kita pun kian terpuruk. Aku juga sedih dan kecewa.

  • Anthony Harman said:  

    Saya gak biasa ngikutin pembicaraan tingkat tinggi kayak gini. Tetapi, apapun yang terjadi di negara ini, saya sebagai warga negara, terutama warga non pri, sebenarnya tinggal ngikutin aja dan belajar untuk beradaptasi

  • Rofi said:  

    pesemisme ente terlalu berlebihan bro... ku berani pastikan, saat menulis ini, ente fokus pade negetif persepsi. maka keseimbangan g muncul. memang betul apa yg bro ungkap, tp g sebegitu demikian, kita masih manusiawi di bandingkan dengan negara2 lain yg miskin, bro liat utopia, africa, beberapa negara latin dan lain2, banyak yg lebih menderita dari sisi yg bro ungkap dari kita.
    btw... good job bro...

  • Fajar Indra said:  

    @ nggunem, acy, david, eeda, syamsul alam & banglul:
    wah setuju tenan kuwi... let's do bedol desa... jadi TKI b-( !!!

    @ panda & else :
    kan udah saya bilang, istri saya nanti tuh Gita Gutawa :x

    @ dugem, ebleh, Ryan :
    justru itu, saya ingin menggugah kita semua dengan tulisan yang sifatnya otokritik :)

    @ aha, papapam :
    iya sih... :D

    @ enhal :
    ah sampean berlebihan, jadi malu b-(

    @ gus & oeoes :
    jangaaannn... ntar kas negeri blogger saya korup lho :p

    @ Qori :
    bagus mas, tetap tanamkan idealisme dan nasionalisme, selagi masih muda. :)

    @ Bunda Rierie :
    hayyou.. ntar dimarahin pak presiden lho :p

    @ herro :
    itu logonya mas antobilang

    @ Nanoq de kansas:
    begitulah paman, tak hanya saya yang sampai berbusa mengeluarkan pendapat. Saya yakin, banyak orang-orang yang kecewa dengan kondisi seperti ini :)

    @ Anthony Herman :
    semoga makin betah tinggal di Indonesia ya... :p

    @ Rofi :
    mungkin anda benar, tapi begitulah kondisi bangsa ini, selalu melahirkan ketidakpercayaan. :(

  • MBAH IM said:  

    Salam buat Pak Djatun...Anak2 didiknya sekarang yang pegang kendali ekonomi di negeri ini. Sayang, mereka agak kapitalis dan pro barat/IMF. Saya harap nanti suatu saat kalo mas Fajar jadi menteri perekonomian atau keuangan di negeri ini hendaknya lebih mengedepankan ekonomi yang pro rakyat kecil seperti mendiang Buang Hatta atau pemikiran-pemikiran Faisal Basri...

  • indonesiadua said:  

    selamat malam indonesia, hari sudah malam... tidurlah, esok matahari bersinar lagi...
    mudah-mudahan indonesia bangkit dari tidur panjangnya...

    (kayak lagu chrisye.... b-( )

  • Anang said:  

    vote fajar indra for capres... yuk

  • andika said:  

    setuju, ayo kita dukung yang punya blog jadi presiden, pemikirannya brilian

  • arielz said:  

    setuju setuju..
    seperti kata om kenedi,
    rait or rong is mai kantri

  • Rian said:  

    Yah biasalah kalo di Indonesia semua yg gampang dipersulit, yang sulit tambah dipersulit lagi... hehe

    salut buat blognya sukses dan tambah maju yah....

  • gembrot said:  

    ya, indonesia memang sangat kriminal. seharusnya ketua PSSI itu DIGANTUNG !!!!!

  • Ridho said:  

    Prihatin saya ngeliat negara ini, padahal negara ini berpotensi menjadi negara terkaya lwt SDA dan perairannya, sayang gak di manfaatin.

  • Fajar Indra said:  

    @ mbah iim :
    semoga ya mbah, saya bisa jadi menteri... amiin :p

    @ indonesiadua :
    sayang, saya mengidap insomnia

    @ anang & andika :
    silakan, kita masyarakatan korupsi nantinya

    @ arielz :
    asal bukan katanya project pop, dangdut is the music of my country

    @ ryan :
    hehehehe... jadi malu :)

    @ gembrot :
    mari kita gantung bang NH

    @ ridho :
    itulah endonesa !!!

  • from qpin to aan said:  

    Indonesia begitu...

    ya emang mungkin kodratnya kali...

    hwakakakakakakakakakakak

    pemerintah kenapa g pernah malu ya...
    untuk urusan ini kayknya emang g punya kemaluan,, tapi untuk urusan yang u u tuh kemaluannya pada nongol semua...=))

    parah bikin malu aja...

    ala makjan

  • NAZA LUCKZANA said:  

    jika rusak karena kita maka kewajiban siapa untuk membenahi? aduh ferivikasi kata ...mengapa kau selalu nongol disetiap langkahku

  • paank Fachrezi said:  

    beberapa orang bilang, negara ini sudah terlalu parah untuk disembuhkan.

    Aq jg nggak punya ide gimana agar negara ini bisa kembali sehat.

    Mulai dari diri sendiri aja kali yeee

  • Rogan said:  

    wah bahaya sekali bertobah ahhh kiamat sudah dekat

  • chiero said:  

    begini" indonesia juga tanah kelahiran kita,

    mungkin generasi kita yang dapat mengibah semuanya,

    *amin*

  • eyang mojo said:  

    Kalo Eyang, masih Bangga dengan Indonesia lo Mas. Dan kini pingin menularkan kebanggaanku terhadap bangsa yg lagi amboradul ini sama teman - teman.
    kalo tidak mulai sekarang kita bangga kapan lagi apa nunggu tambah bubrah bangsa ini

  • informasilowongankerja said:  

    jangan-jangan om fajar ini pengamat politik kali ya...abis obrolannya dah seperti orang politik hehehe becanda lho om :D

  • defantri said:  

    sabar ya jadi orang indonesia...

    dari indomesia ke neraka pulsanya lokal..


    ...have fun

  • Elsa said:  

    tau gak puisinya Ismail Marzuki yang judulnya "MALU AKU JADI ORANG INDONESIA" ???

    bagus tuh!
    cocok sama postingan ini.

  • Elsa said:  

    RALAT :
    bukan ismail marzuki
    tapi TAUFIK ISMAIL !!!

    maaf pak Taufik....

  • Leave your response!

    Mohon untuk menyertakan nama dan identitas (alamat web) jika ingin berkomentar. Jika anda ingin ber-anonim, mohon cantumkan email dan nama anda.