Iseng Nulis Lagi

2008-10-26 Leave a Comment

Salam sejahtera.

Akhirnya setelah lebih dari setengah bulan saya nggak nulis, saya nulis lagi. Beberapa hari ini memang menjadi hari yang tidak cukup berat bagi saya. Sempat collapse beberapa saat, hingga harus terus menghibur diri lantaran hasil mid-test yang sangat tidak memuaskan. Entah mengapa, amnesia saya kambuh ketika saya harus ditanya bagaimana Fama & French membuat teori arbitrase harga dengan tiga faktornya. Persamaannya sebenarnya simpel, tapi penjelasannya yang agak bikin otak puyeng. Persamaannya ditulisnya seperti ini :


Minggu-minggu ini juga menyimpan beberapa kisah yang sebenarnya tidak terlalu esensial untuk saya ceritakan disini, seperti tentang perdebatan RUU Pornografi, perkawinan di bawah umur, dsb. Tapi biarlah, saya justru sedang ingin menulis hal-hal yang tidak penting tersebut. RUU Pornografi misalnya, What the hell is that? Saya sendiri nggak mau menjerumuskan diri pada pro dan kontra hal yang bagi saya nggak terlalu penting tersebut, karena hanya satu kesimpulan yang bisa saya tarik ketika RUU Pornografi itu diberlakukan. "Bangsa ini memang benar-benar abal-abal dan kurang berpendidikan, sampai-sampai masalah moral saja pemerintah harus turun tangan."

Begini, paling nggak, RUU itu benar-benar menguras energi dan pikiran. Dimana sebenarnya kita bisa memikirkan hal yang lain seperti pondasi pendidikan, kaderisasi olahraga (terutama sepakbola), dan sebagainya. Saya? jujur melihat kondisi yang ada di bangsa ini, saya mendukung adanya RUU tersebut dan cepatlah disahkan, sehingga tidak buang-buang waktu lagi. Orang-orang seperti orang Indonesia memang belum bisa diumbar. Sebagai perbandingan sederhana saja, sebagian besar orang AS menganggap film bokep sebagai barang subsitusi terhadap pelecehan seksual (data dari Oprah Winfrey Show), namun di Indonesia, film bokep justru muncul sebagai barang komplementer terhadap kejahatan tersebut. Kalau sudah begitu, siapa yang salah? Pun jika saya menjadi pemerintah sekarang, solusi jangka pendek adalah RUU Pornografi! Tapi dengan satu catatan : harus ada definisi yang jelas mengenai apa itu pornografi

Meski demikian, ada yang saya sesali dari proses pembuatan RUU ini. Mengapa islam terlalu dominan? Seharusnya diskusi mengenai pornografi juga diimbangi dengan sudut pandang budaya lainnya, terutama mereka yang bersifat kontradiktif. Sekali lagi, saya mendukung RUU tersebut bukan karena saya yang kebetulan dilahirkan sebagai seorang islam. Saya juga sedih, mengapa dengan teganya ada pihak yang menuduh jika pihak yang kontra hanya memanfaatkan isu ini untuk kepentingan politik? what the f**k. Saya sangat bersimpati dan mengerti benar mengapa mereka menolak RUU tersebut. Ini bukan masalah bertelanjang dada ataupun pamer paha seperti apa yang selalu dituliskan, tapi RUU ini sangat berpotensi memiliki derivasi dan batasan-batasan dalam berekspresi. Sayang, saya nggak ngerti tentang hukum. Solusi common-sense saya adalah disahkannya UU khusus bagi mereka yang memiliki kebudayaan alamiah yang berbeda.

Tapi ada hal yang lebih nggak penting lagi. Silakan tengok berita ini. Ternyata cukup banyak orang yang mengomentari berita tersebut. So, what about my words? Saya cuma bilang, "Yo luweh to, paling nggak, di dunia ini ada yang lebih pedofil dari pada saya yang maunya sama Gita Gutawa. Money is everything. Do'a saya, semoga si syeh itu nggak pergi naik onta kemana-mana gara-gara ngikutin kebiasaan Rasulullah dulu :p." terus abis itu bilang ke sang istri mudanya, "Mesakke men to kowe nduk, durung nganti ngedugem kok wes didugem."

Sekian sampah-an saya dan terima kasih,

Salam

7 comments »

  • Fajar Indra said:  

    maap, lagi nggak mood nge-blog... hehehe

  • nita said:  

    duh, soal syeikh itu kepikiran terus. gimana nasib anak2 di bawah umur itu. sepertinya polisi belum bertindak apa2. entahlah. mungkin sungkan krn sang syeikh pakai dalil agama

    soal RUU pornografi memang idealnya dibahas dg melibatkan berbagai unsur dr ahli agama, pendidik, budayawan, pekerja seni, dan masyarakat umum. jika pemerintah belon bisa membahasnya dg melibatkan banyak unsur mending gak usah terburu2 bikin RUU atau sekalian gak usah dibuat --toh masih banyak hal prioritas yang perlu diurus, seperti melambatnya ekon indonesia akibat goncangnya ekon AS

  • gus said:  

    hahaha....saya hanya melihat soal syeih puji hanaya sebagai hiburan disaat kebuntuan di banyak hal negeri ini...

  • tyas said:  

    kok aku mendadak migrain begitu liat rumus arbitrase itu yah?? ampuuun...
    waaaa, tambah pusing n mual liat berita nya si Puji.. maaf, aku gak panggil dia pake Syekh..
    huweeekkk... nggak banget deh tu orang...

  • cerita senja said:  

    weh. apaan tuh. rumusnya bikin mumet hehe.
    btw, sama kayak mbak tyas. si puji itu perlu dipertanyakan maksudnya mengawini gadis cilikcilik.
    eh apa iya dia mau panggil istrinya: "pacar kecilku"
    hehe

  • david said:  

    syeh puji itu pedofil, sama kayak mas fajar. hehehe

    dunia memang sudah mau kiamat ya mas? :p

  • Tendangan Bebas said:  

    Sederhana saja ...
    Pornografi didefenisikan dulu secara sempit
    Misalnya Film Porno.
    Seiring dengan tuntutan sosial, dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan semua pihak.

    Dampaknya apa ? Tentu saja biaya pembahasan defenisi Porno dari tahun ke tahun oleh DPR.

  • Leave your response!

    Mohon untuk menyertakan nama dan identitas (alamat web) jika ingin berkomentar. Jika anda ingin ber-anonim, mohon cantumkan email dan nama anda.