Rokok Dengan Segala Plus Minusnya

2008-08-27 Leave a Comment



Malam tadi saya menonton sebuah siaran televisi yang berbicara tentang halal dan haramnya merokok di kalangan ulama. Mereka sibuk berdebat hingga berbusa-busa bahwa keputusan MUI untuk mengharamkan rokok harus segera dilegalkan. Alasan-alasan mereka, kurang lebih sama dengan apa yang tertulis dalam blog ini. Meski demikian, adapula yang menolak fatwa pengharaman tersebut dengan alasan bahwa negara kita ini bukan belum menjadi negara islam, maka seharusnya, biarlah pemerintah yang mengambil alih peran ini. Pihak kedua ini lebih setuju kalau merokok itu hukumnya makruh. Lantas, bagaimana menurut saya?

Tidak, saya bukan seorang perokok yang berusaha untuk mencari pembenaran di kasus ini. Saya sendiri telah berhenti merokok sejak tiga tahun yang lalu dan saya sangat setuju jika rokok itu merusak kesehatan meski bukan kapasitas saya mengatakan bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan berhubung saya bukan pakar kesehatan. Hanya saja, saya menyayangkan sesuatu hal yang normatif yang diperdebatkan dalam acara itu. Jujur, saya tidak pernah percaya jika manusia itu patuh pada himbauan, meskipun himbauan itu berbau agama sekalipun! Ok lah, bangsa kita memang katanya relijius, tapi tetap manusia. Niscaya, mereka pun akan mencoba mencari celah untuk melakukannya. Perlu diperlukan sebuah insentif atau hukuman yang jelas bagi pelakunya, karena kita bukan hidup di surga.

Selama ini, sudah banyak sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah (khususnya di Jakarta) untuk mengurangi jumlah perokok dengan cara menerbitkan larangan merokok di depan umum. Efektifkah? bisa jadi efektif jika tujuannya hanya menjaga alam dari campuran gas rokok yang katanya membahayakan. Namun untuk meminimalisir perokok? rasanya tidak.

Begini, dalam artikel ini saya pernah menuliskan bahwa rokok adalah produk adiktif yang tidak elastis. Secara teori, kenaikkan berapapun harganya, tetap akan terjual dengan volume yang sama. Nah, masalahnya di Indonesia sedikitnya uang sebesar Rp 113.000 setiap bulannya terogoh dari kocek pribadi orang miskin di Indonesia. Dan rendahnya cukai di Indonesia saat ini sebesar 37%, diyakini semakin menumbuhsuburkan industri rokok tanah air dan semakin menambah tinggi jumlah perokok di Indonesia. Dan itulah alasan utama Phillip Morris mengakuisisi merk a-mild beberapa waktu lalu. Maka dari itu, daripada membahas halal haramnya merokok dan belum tentu pulah hadist yang dipakai untuk acuan itu shaheh, saya lebih suka membahas tentang potensi kenaikkan cukai rokok. Karena itu lebih riil.

Saya sendiri sudah pernah menuliskan skenario-skenario yang mungkin terjadi dalam artikel ini. Berikut adalah re-post dari artikel saya tersebut dengan sedikit perubahan :

Kenaikkan cukai rokok, entah berapa pun itu besarannya, akan menjadikan insentif negatif bagi si perokok untuk terus menggandrungi "kekasih" mereka itu. Namun, jika eskalasi kenaikkan hanya tidak seberapa alias tanggung-tanggung, saya kira skenario ini takkan berhasil karena menurut hemat saya, rokok adalah salah satu barang yang inelastis, dimana secara teori, kenaikkan berapapun harganya, takkan mampu "mengusir" pembeli dari "jalan mereka". Mengapa begitu? karena rokok merupakan barang adiktif.

Contoh kecilnya adalah ayah saya sendiri. Ayah saya adalah seorang perokok kelas berat, dan tahun 1998, ketika kenaikkan harga rokok Dji Sam Soe hampir mencapai dua kali lipat, hal itu tidak berpengaruh baginya karena menurutnya, lebih baik tak makan seharian dari pada tak merokok sama sekali dalam sehari. Dan jika hal itu terjadi, hal ini bukannya menyukseskan gerakan anti merokok, tapi malah mengantarkan rakyat miskin ke jurang kehancuran. Mengapa, karena dengan itu kita akan "membimbing" mereka melakukan post pengeluaran yang lebih tak semestinya. Survei secara nasional oleh WHO menunjukkan bahwa pria yang tidak sekolah/tidak tamat SD merupakan perokok terbanyak. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin sedikit yang jadi perokok. Sedangkan wanita hanya sedikit yang jadi perokok. Dan persentase manusia tidak berpendidikan di Indonesia saya kira melebihi mereka yang berpendidikan dan bentu piramidanya adalah lurus dengan mereka yang berpendidikan berada di puncaknya.


Jelas, saya mendukung skenario ini. bagi saya, ketika membuat kebijakan, kita harus tahu bagaimana perilaku konstituen kita. Solusi saya untuk skenario ini adalah: naikkan nilai cukai rokok dengan setinggi-tingginya! Meski demikian, saya menyadari sepenuhnya bahwa akan ada trade off dari kebijakan ini. Singkatnya, trade-off akan ada di skenari berikut (yang juga saya comot dari artikel lama saya)

Kenaikkan harga rokok juga akan menjadi insentif negatif bagi perusahaan rokok untuk melakukan produksinya. Siapa sih yang mau ditarik upeti yang tinggi? cukai rokok sudah pasti akan mengurangi laba bersih mereka. That's it, pajak adalah salah satu pengeluaran mereka. Hal ini akan diikuti oleh dua skenario turunan.
Yang pertama, mereka akan menaikkan harga jual rokok. Skenario inilah yang diharapkan dengan kenaikkan cukai rokok bukan? dengan kenaikkan harga ini, diharapkan jumlah perokok di Indonesia bisa ditekan dan cadangan devisa pemerintah menjadi menggembung (meski tidak menjamin hal ini). Tapi harus diingat, kenaikkan harga rokok yang diikuti dengan skenario pertama diatas juga bisa menjadikan skenario kedua, yakni menurunnya omzet penjualan dari perusahaan rokok. Well, hal ini secara tidak langsung berpotensi menggiring perusahaan rokok menuju kebangkrutan. Eskalasi penurunan volume penjualan adalah penyebab.
Hal ini bisa berdampak kepada penurunan harga saham perusahaan rokok (bagi perusahaan besar) dan yang paling parah lagi adalah secara perlahan, hal ini bisa mematikan perusahaan rokok yang berskala menengah kebawah. Dan mungkin anda bisa membayangkan bagaimana nasib para buruh bukan? Angka pengangguran di Indonesia masih beklum dapat ditekan hingga saat ini.


Lebih parah lagi, bagaimana nasib mereka yang sudah terlanjur menanam tembakau, dan yang lebih ekstrim lagi, mereka yang sudah melakukan transaksi future untuk tembakau (meski itu sudah menjadi resiko mereka, untuk future). Maka dari itu, keputusan ini saya rasakan seperti zero-sum game, dimana keuntungan pihak lain adalah kerugian bagi pihak. Namun, berkat data yang ada sekarang plus tambahan masukan dari rekan saya dibawah ini, saya semakin yakin bahwa cukai rokok memang harus naik! (Meski saya yakin, perusahaan rokok sudah memiliki manuver tentang kemungkinan ini)

Rekan saya dalam komentarnya juga menambahkan sebuah data bahwa industri rokok dan petani tembakau hanya dikuasai oleh 4 propinsi di Indonesia. Secara persentase, kontribusi keduanya tidak lebih dari 3 persen dari keseluruhan industri manufaktur dan pertanian. Artinya, jika - dan hanya jika - betul kedua sektor tersebut akan collapse, maka biasa untuk melakukan relokasi dan kompensasi ke sektor lain sangat memungkinkan. Saya setuju, jika kemajuan sektor riil tidak melulu harus mengorbankan kualitas masyarakat.



Salam,






Foto diambil dari sini


54 comments »

  • jack said:  

    upss. saya perokok he boss kategori berat sedang dan ringan, dan sudah coba mengurangi..aau bahkan tidak meroko juga gak masalah.. cuma kalo sedang jalan ama temen2 jadinya mau lagi. tapi semua pasti ada maksud dan manfaatnya...

    bukan begitu bozz??

  • rezKY p-RA-tama said:  

    untung gw bukan perokok aktif,,tapi kalo dikosan jadi pasif neh,,anak2 pada ngerokok!hehehe

  • Panda said:  

    setelah membaca seluruh artikel anda maka Panda ngomong " NO KOMEN "

  • Rogan said:  

    betul tuh bahaya merokok ! biasa buat bangkrut

  • cena said:  

    rokok bahaya ah.....
    setuju banget kalo dilarang...

  • Milla Widia N said:  

    setuju kalo rokok di larang... asepnya itu lohhh ganggu orang di sekitarnya. kalo merokoknya di ruang khusus sih gak apa2...

  • balidreamhome said:  

    Saya perokok dan saya menyadari akibatnya, tetapi sepertinya yang terjadi dinegri ini lebih kepada debat kusir dan cuma ngabisin energi aja.

    Kalau mau merokok ya udah biarin aja yang penting tidak mengganggu orang lain, beri tempat khusus untuk perokok dan larangan merokok ditempat umum juga saya sangat setuju walaupun masih banyak yang aneh, ada tulisan dilarang merokok tapi masih tersedia asbak dan dust-bin.

    Mati karena merokok juga banyak, mati karena narkoba banyak juga, mati karena naik pesawat juga banyak, mati kebanyakan alkohol juga iya, nah tinggal kita memberikan kesadaran pada yang muda supaya hidup lebih sehat.

    Kalau roko dinaikkan harganya menjadi mahal saya juga setuju berarti mengurangi kemungkinan beli untuk siswa sekolah, yang ada mereka malah kompak patungan :-)

    Fatw MUI ? he he he are they playing GOD here ? Kurang kerjaan kale, sementara lembaga mereka sendiri belum terlalu bersih kok...

    Cheers,

  • Anonymous said:  

    Anda mengesampingkan hukum agama. Memang negara kita belum negara islam, tapi bagaimanapun hukum islam harus ditegakkan. Bagaimana islam akan bangkit kalau seperti itu pemikiran anda sebagai muslim. Anda saja sebagai muslim tidak mendukung kebangkitan islam. Anda ini bagaimana?

  • UpyL said:  

    Saya jg ga suka klu ada yg ngerokok deket2 saya!!

    *Ga nyambung :D

  • Bunda Rierie said:  

    kalo bunda mah yakin semua perokok tau akibat-nya, jadi semua tergantung pada orangnya aja...diterusin monggo... sadar akibantnya ya syukur....
    gampang khannnn

  • EbleH 182 said:  

    Waduh, kalo rokok di haramkan kasian petani tembakau.. Bisa-bisa rakyat miskin di INDONESIA makin meningkat.

  • papapam traffic said:  

    sebenarnya gak perlu se ekstrim itu rokok diharamkan, banyak isue lain yang lebih besar dari rokok, misal minuman keras yg makin marak dikalangan pelajar, narkoba dll yag sebenarnya perlu diberantas, nggak bisa dipungkiri pajak dari rokok menyumbang devisa negara hampir 30 %, sebenarnya jgn rokonya yang dilarang, tapi perokoknya yg areanya perlu dipersempit spt, misalnya mall, restaurant, terminal, stasiun ditulis besar2 DILARANG MEROKOK!!

  • Syamsul Alam said:  

    Balidreamhome said, "Saya perokok dan saya menyadari akibatnya, tetapi sepertinya yang terjadi di negeri ini lebih kepada debat kusir dan cuman ngabisin energi aja."

    Betul kata mas bali, daripada cuman debat dan cuman ngabisin energi, gimana kalo fatwa pengharaman itu langsung kita realisasikan aja. Dan seperti ide mas Fajar, bea cukai langsung dinaikkan setinggi-tingginya. Jadi produsen rokok bakalan bangkrut di negeri ini, dan negeri ini bersih dari rokok!:D:))

    Balidreamhome said, "Kalau merokok ya udah biarin aja yang penting tidak mengganggu orang lain, beri tempat khusus untuk perokok dan larangan merokok di tempat umum, saya juga sangat setuju walaupun masih banyak yang aneh, ada tulisan dilarang merokok tapi masih tersedia asbak dan dust-bin."

    Betul lagi kata mas bali, Yang mau ngerokok biarin aja, mereka dikucilkan (diberi ruang khusus), pokoknya nggak di Indonesia... Surabaya sudah cukup panas dengan kendaraan bermotor, apalagi ditambah asap rokok, duh gila amat perokok, itu... Masalah asbak, betul kata mas bali, itu memang sangat aneh... di ekspor aja semuanya keluar negeri, toh Indonesia bakalan bebas rokok, kalo ada yang ngerokok, ya biar dimatiin pake jidat masing-masing.:D:))

    Balidreamhome said, "Mati karena merokok juga banyak, mati karena narkoba juga banyak, mati karena pesawat juga banyak, mati kebanyakan alkohol juga iya, nah tinggal kita memberikan kesadaran pada yang muda supaya hidup lebih sehat."

    Yang ini juga sangat betul, nih... Mati itu banyak macemnya, narkoba dan alkohol itu mematikan, jadi dalam Islam emang haram... berhubung rokok juga, jadi biar adil, ya... difatwa haram juga... Sekalian memperkecil jumlah kematian di Indonesia, betul kan mas Bali? Satu hal lagi yang sangat betul dari mas bali, adalah... Anak-anak emang harus diberi kesadaran pada rokok, tapi meski sudah sadar, mereka masih penasaran, dan ingin mencoba sesekali, itu karena mereka mungkin pernah melihat perokok. Jika mereka tak pernah mengenal rokok dalam kehidupan mereka, impian mas Bali untuk menyehatkan generasi muda, pasti akan terlaksana. Jadi, ya... rokok harus segera dimusnahkan, perokok yang tak bertobat, dikucilkan di nusakambangan, ato pulau yang belum sempat kita beri nama. Dengan begitu, kalo kita punya anak, anak kita bakalan aman, takkan ada kemungkinan merokok. Karena mereka bahkan tak mengenal kata rokok... Gitu kan, maksud mas Bali??:D:))

    Balidreamhome said, "Kalau rokok dinaikkan harganya menjadi mahal, saya juga setuju berarti kemungkinan beli untuk siswa sekolah, yang ada mereka malah kompak patungan :-)"

    Betul... jika rokok dinaikkan harganya menjadi mahal saya juga setuju mas Bali, tapi fatwa haram MUI hanya untuk bocah Islam, jadi yang non-muslim kan masih bisa tuh ngerokok, biarin aja kalo mereka kompakan patungan, setidaknya rokok yang mereka beli, masih lebih sedikit dibanding jika harga rokok murah. Awalnya duit uang berenam bisa buat beli rokok 72, jika dimahalin, duit 72 bocah cuman bisa buat beli 6 rokok, dengan begitu tuh 72 bakalan gelut, luka-luka, mati atau kapok untuk mengonsumsi rokok, dan mereka pasti tak cukup bodoh untuk membeli sebatang rokok yang harganya lebih mahal dibanding 5 mangkuk bakso saat itu...:)):D

    Balidreamhome said, "Fatw MUI he he he are they playing GOD here ? Kurang kerjaan kale, sementara lembaga mereka belum terlalu bersih kok..."

    Betul bgt mas Bali, masih ada Kiai yang 'kotor' karena merokok, jadi memang rokok harus diharamkan, kalo gitu, MUI yang muslim pastinya ga bakal berani ngerokok lagi, lha wong rokok haram, kalo mereka sampe berani ngerokok, seperti kata mas Bali, mereka emang playing GOD here... mereka menipu Tuhan! MUI emang gak bersih-bersih amat sekarang, orang masih ada yang ngerokok, jadi biar bersih, jangan ngerokok, tau!!!:)):D

    Cheers juga mas bali... mas banyak nolongin saya mbuat komen ini, tanpa kerjasama antari aku dan mas, rokok bakalan merajalela, mas....

  • Fajar Indra said:  

    @ jackz & rezky pratama :
    yups, emang harus begitu, saya juuga gitu soalnya :D

    @ panda :
    wehehehehe... hayyou... bang panda perokok kan :))

    @ Rogan, Cena, upyl, & Milla Widia :
    kita semua sependapat sodara :)

    @ Balidreamhome & Bunda Rierie:
    Yups.. itu yang saya maksud dalam tulisan ini... biar saja semua orang menanggung akibatnya, ga usah main haram-haraman :p

    @ Anonim :
    wah... sodaranya Imam Samodra nih... mas-mas... tampaknya anda belum menjadi Muttaqin ya? anda kayaknya mesti baca tulisan ini deh. Jangan bikin jagad dunia menertawakan islam dong =))

  • Fajar Indra said:  

    @ Ebleh :

    nggak juga kok... kan sudah ada datanya :p

    @ papepam traffic :

    saya setuju dengan anda, orang jaman sekarang memang suka yang aneh-aneh :p

    @ syamsul alam :

    sebenarnya nggak perlu pengharaman. Karena itu buang-buang waktu saja. saya lebih setuju usulan mas Balidreamhome dan tentunya usulan sampeyan kecuali masalah pengharaman :p

  • Tukang Nggunem said:  

    Siaaaaaaallllllllll...keduluan posting ni...gara2 bangun kesiangan...kamprettt!!!!!! saya juga liat dialog itu di tvone, trus langsung bikin posting mengenai hal tersebut...
    ah tapi luweh wae, mau tetep saya posting aja,mubazir wong udah telanjur dibikin kok, hehehe...

  • Mike.... said:  

    merokok emang bisa merugikan kesehatan..tapi,
    tidak merokok bisa merugikan pemerintah...
    wkwkkwkw..saiya sendiri bukan perokok,jd masih betah jd penonton aj kalo masalah ginian..:)

  • Masenchipz said:  

    daripada buat beli rokok mending buat beli Mie ayam ajah... kan sam tuh... hue,..he...

  • SiMunGiL said:  

    susah susah gampang berenti ngerokok itu,
    ada yang bilang susah ada yang bilang gampang, tergantung niat dari orangnya siy...

    tapi kenapa jadi ngomongin berenti ngerokok yah?

    yang jelas klo bea di naekin, entah apa jadinya yah? Selama rokok masih bisa ngeteng, sepertinya tetap akan terus terjual juga :)

  • balidreamhome said:  

    merokok is the best tidak merokok is the best wakakaka

    kaburrrrrrrrrrr

  • Syamsul Alam said:  

    Semuanya... saya setuju deh... netral dah saya... tak ada yang tahu kesehatan dirinya, dibanding dirinya sendiri, toh?

  • Jonny said:  

    Mungkin solusinya adalah menyelamatkan yang belum terpolusi. Maka generasi muda, jangan merokok. Peringatan pemerintah : Merokok dapat mmengakibatkan gangguan janin *lho*, kehamilan dan impotensi. Amin. *Wuihh* Yang udah kadung terpolusi, kepengen berhenti, tapi bawaannya masih pengen nyedot, sedot yang lain aja *Hihihihi*..

  • Fajar Indra said:  

    @ Tukang Nggunem :
    Makanya mas bangun pagi, nanti rejekinya diserobot kambing lho =))

    @ Mike :
    Biarin aja pemerintah rugi, yang penting kita ga rugi dan sehat... :p

    @ Masenchips :
    Ngomongin mie ayam jadi laper saya :D

    @ Si Mungil :
    wah masukan baru nih sodara-sodara... bener tuh, kalo masih ngeteng susah urusannya. Makanya naikin aja harganya 100 kali lipat :p

    @ Balidreamhome :
    orang aneh :-/

    @ Syamsul Alam :
    yups, that's the point.

    @ Jonny :
    tuh kan... makanya pecaya apa yang dikatakan Jonny :p

  • Bayu Aditya said:  

    kalo masalah haram atau makruh itu, seharusnya MUI ga bisa ngubah2 aturan agama sesuka mereka dong, hebat amat?

  • tyas said:  

    lhaaah... urusan haram ato nggak itu kan urusan Tuhan..
    kok ya MUI ngurus masalah rokok to ya..
    masing2 yg ngerokok juga tau sendiri bahaya dr ngerokok.. gak usah diatur2 gitu sama MUI.. masih banyak yg perlu diurusin selain fatwa haram ngerokok..

  • ziq said:  

    katanya rakyat Indonesia banyak yang miskin, tapi yang merokok juga banyak dari orang miskin...Jadi masyarakat Indonesia kaya donk..???

  • imut said:  

    speechless... tulisan bagus bocah..

  • apiscerana said:  

    bener juga..
    harga cukai rokok naik, para Smokers gak ada yang protes...
    klo harga minyak aja protesnya minta ampun..

    Tapi kasian juga klo rokok jadi haram, ntar pabriknya bisa tutup, klo pabriknya tutup berapa ribu pengangguran baru di Indonesia...

    Dilema...dilemaa... dilema...dilema (:bujangan-nya bang Rhoma)

  • banglul said:  

    Nice artikel!

    saya perokok juga, dan baca tulisan ini pun sambil merokok :D

    merokok dan tidak merokok ?? sungguh propaganda grhhh..!!!

    :|

  • MBAH IM said:  

    Ah, saya jadi membayangkan seandainya dunia ini tanpa rokok...Apa yang dilakukan orang untuk untuk membuang kejemuan ya ??

  • Jonny said:  

    Gue barusan baca buku tentang rokok. Katanya, separuh dari sumber keuangan pabrik rokok itu dikeluarkan justru dari kalanganmenengah kebawah. Ironis kan? Justru orang - orang miskin yang ngebikin pabrik rokok itu gedhe. Ditambah kolaborasinya orang - orang yang udah tahu bahayanya ngerokok tapi masih ngeyel ngelakiuin juga..
    Ngibriiiiiiitt..

  • Anang said:  

    saya ga ngerokok.. dan ga suka liat orang ngerokok...

  • balidreamhome said:  

    just a link tentang roko juga :-)

    http://balidreamhome.blogspot.com/2007/08/no-smoking-but-you-can-drink.html

  • Fajar Indra said:  

    @ Bayu aditya & tyas :
    mungkin MUI tidak berniat untuk menjadi tuhan, mereka hanya berniat mengaplikasikan sebuah hadist. Tapi bagi saya, itu bukan solusi konkrit. Tapi itulah ENDONESA :p

    @ Ziq & Jonny:
    Bukan begitu mas, rokok (seperti halnya narkoba & temen2nya) merupakan zat adiktif. Orang kalo udah kecanduan bakalan keluar berapapun untuk itu.

    @ imut :
    lo udah ngrokok ya =))

    @ apiscerana :
    That's another point. Daripada kita ribut soal kenaikkan BBM, kenapa nggak ributin aja soal ini?

    @ banglul :
    hehehe... ndak ikut-ikutan lho.. :p

    @ Mbah Iim :
    nonton **k*p bang b-(

    @ Anang :
    Saya ndak ngrokok juga kok mas... orang lain ngrokok, saya mah luweh :p

    @ Bali Dream Home :
    Saya udah baca artikelnya (lain kali kalo ngasih link artikel ini di HTML-in saja mas... soalnya blog ini sudah saya lock biar ga bisa di block tulisannya). Artikelnya bagus dan logis. Jika AS memang mendukung kampanye anti rokok lantaran mereka nggak punya tembakau, itu adalah sebuah manuver ekonomi yang wajar. AS adalah negeri bebas, mereka akan sulit mengekang warganya untuk berbuat sesuatu tanpa alasan yang rasional. Saya juga sudah pernah membaca tentang artikel tersebut. Itu semata-mata hanyalah alasan ekonomi, saya setuju dengan mas Bali.

    Sekarang Indonesia, neraca pembayarannya saja negatif lantaran terlalu banyak barang impor dibanding ekspor. Hal itu merupakan salah satu alasan mengapa pemerintah menaikkan harga BBM. Minyak Indonesia adalah salah satu yang terbaik di Asia. Tapi gak mungkin dinaikkin sampai batas puncaknya, lantaran daya beli masyarakat akan tergerus. Pos penting yang lain adalah kenaikkan cukai rokok, karena rokok adalah barang inelastis. Kenaikkan itu diharapkan bermakna ganda, selain manuver ekonomi, juga sedikit mengurangi perokok muda. Mengapa perokok muda? selain daya belinya terbatas, perokok tingkat lanjut sudah sulit untuk diminimalisir. Dan biarkan saja mereka (yang lanjut) menjadikan itu sebagai pilihan. Saya setuju dengan mas Bali kalau rokok itu pilihan, seperti agama.

    Untuk minuman, ntar lain lagi kajiannya mas... huehuehuehue :D

    @ All :

    (Kalau ada yang ingin membaca artikel mas Bali Dream Home, silakan klik disini)

  • orangndut said:  

    jadi teringat ma postingan saya terdahulu tentang Rokok yang bisa meningkatkan resiko terkena serangan kanker paru-paru. Kalo pengin baca selengkapnya silahkan ke sini aja:
    http://www.omongopo.com/2008/08/kanker-paru-paru-dan-kebiasaan-merokok.html

  • Daniel GM said:  

    tapi emank ga enak lho kalo kita ga ngerokok trus diasapi rokok sama ya lain... uhh.,... serba salah ya...btw aku ga ngrokok karena katanya bikin impoten dan penyebab kangker paru... he he..

  • Anonymous said:  

    bagus, kita mesti mengkampanyekan anti rokok dan tulisan anda sangat baik. saya akan simpan artikel ini dalam komputer saya

  • INDAH REPHI said:  

    MARI KITA ALIHKAN DULU PANDANGAN DARI KATA HARAM-HALAL

    ROKOK ITU...
    BIKIN KANTONG SERET
    BIKIN PARU-PARU MAMPET
    BIKIN MULUT BAU
    BIKIN GIGI KUNING
    BIKIN JANTUNG KENYOT-KENYOT
    BIKIN UDARA MBOT-MBOTAN


    TAPI...
    DENGAN ADANYA PABRIK ROKOK..
    SETIDAKNYA PENGANGGURAN BS DIATASI "DIKIT"
    NEGARA DAPET PAJAK
    PETANI TEMBAKAU BS MAKMUR

    TERUS..TERUS..TERUS...EUUMM...*MIKIR* HEHE

  • gus said:  

    merokok tanda bahwa seseorang masih hidup...

  • Mike.... said:  

    kalo pabrik2 rokok tutup ntar pengangguran jd banyak lg donk...serbasalah juga..

  • enhal said:  

    gimana yach Halal-haram rokok, kalo bagi saya sich halal haram tu dilihat dari persfektif apa dia dilihat..karena banyak juga dalil-dalil lain yang brkata lain, nah kalo dalam konteks negara saya pikir negara tidak berhak memutuskan hukum halal-haram tu karena yang punya hukum mutlak seprti itu hany Tuhan..wah jadi bingung neh..saya juga perokok neh..
    Copy lgi artikel neh.

  • I Ketut Riasmaja said:  

    Merokok haram..? Mmmm... saya pikir saya setuju dengan penjelasan logisnya.. tapi kalo diharamkan.. mmm.. *bingung lagi..*

  • Fajar Indra said:  

    @ orangndut :
    sudah tak baca artikelnya... nice artikel :)

    @ daniel :
    ya... gitu deh... :p

    @ anonim & enhal :
    silakan... :)

    @ Indah Rephie :
    terus.. terus... terus... ntar nabrak lo mbak :p

    @ gus :
    itu buat perokok :p

    @ mike :
    itu trade off :D

    @ riasmaja :
    Seperti apa kata Naga Bonar, "Tak usah bingung, katakan saja TIDAK !!!"

  • oeoes said:  

    mas bilang MUI, mending ngurus lainnya yang lebih penting,saya kira masih banyak kok. daripada mengharamkan rokok, kalau rokok diharamkan kan pekerja-pekerjanya yang islam dosa jika tetap kerja disana, apa MUI mau nyediakan lapangan kerja untuk dia.

  • JoVie said:  

    Rokok Haram? tergantung si perokok, kalo dapetin rokoknya dari nyuri yah haram...

    Makruh? makaruh kan artinya menjalankan tidak berdosa...

    Rokok Bahaya? Gak juga..yang bahaya tuh akibatnya bukan rokoknya...

    Mas Fajar Indra berhenti merokok 3 tahun lalu? duh, senengnya..sini sini saya peluk *diwakilkan ama bantal guling*

  • else said:  

    weleh ROKOK LAGI ROKOK LAGI!
    aq tuh anti buanget ma rokok. dl papaku perokok but dah 10 tahun ini INSYAF :).
    aq cuma binun, siapa seh yg menemukan/menciptakan rokok yg pertama kali?
    orang itu tuh yg hrsnya brtanggungjawab.

  • novi said:  

    Pokoknya rokok gak bagus deh!!!!

  • Anonymous said:  

    good article

  • Anonymous said:  

    hmmm...Jar, gw bukan orang yang percaya bahwa aturan, larangan, anjuran, hukuman, hadiah, atau hal apa pun yang bersifat eksternal, dapat mengubah atau membentuk habit manusia dewasa (20 tahun-an ke atas), termasuk kenaikan cukai. Secara psikologis, hal-hal eksternal semacam itu hanya ampuh untuk anak kecil di bawah 10 tahun. Pada dasarnya manusia dewasa sudah melalui berbagai pengalaman dan mengalami sekian proses pembelajaran baik yang positif atau negatif, yang kemudian membentuk habit, karakter, kepribadian, de-el-el-nya. Manusia dewasa sudah memiliki belief dan prinsip sendiri! So, apa pun itu yang bersifat eksternal, even berlandasakan agama, tidak akan serta-merta mengubahnya begitu saja.

    Ada satu cara yang menurut gw ampuh banget untuk mengubah manusia deawasa dari segi belief, prinsip, atau lebih jauh hingga ke kepribadiannya, yaitu dengan memberikan disonansi kognitif. Sederhananya, dalam disonansi kognitif ini, si manusia dewasa diberikan "guncangan" pada sisi beliefnya, sehingga dia mau berpikir dan dengan sendirinya mulai merasa tidak nyaman dengan beliefnya sendiri, saat beliefnya mulai goyah, tinggal dimasukkan saja belief baru yang membuat dia merasa tercerahkan. Metodenya? Metodenya bisa dengan cara apa aja, mulai dari diskusi, ngasih bacaan, dsb. Intinya, media yang digunakan dapat menimbulkan disonansi pada kognisinya (hmmm...cara kayak gini banyak banget digunakan dalam "pengubahan" keyakinan beragama...)

    Dalam hal merokok, tinggal guncangkan saja belief "kenyamanan" si perokok, buat dia berpikir bahwa merokok bukan lah sesuatu yang menguntungkan dia (kayaknya yang pragmatis-pragmatis lebih bisa diterima orang-orang yak daripada yang berbau moral), lalu dengan sendirinya, si perokok bakal mau mengubah habitnya kok.

    Emang ribet sih, pendekatan kayak gini tuh sifatnya personal, tapi bisa juga diberikan dalam satu sesi pelatihan untuk sekian belas orang sekaligus kok. Tapii...dibandingkan jumlah perokok yang sekian juta orang, cara kayak gini emang butuh effort yang gede banget. Yaah...mau gimana lagi, kalo emang pengen menumbuhkan kesadaran, menurut gw pendekatannya emang mesti personal sih...

    ndah
    caritadelaluna@yahoo.com

  • Fajar Indra said:  

    @ oeoes :

    wes tak omongke kang :p

    @ Jovie :

    apa?? mau dipelukk??? kabuuuurrr :p

    @ Else :

    Yang menciptakan rokok tuh mbahku dan mbahmu juga :p

    @ Anonim/Ndah :

    Horeeee dapet pandangan baru anak psikologi... keren-keren... gue suka banget komentar lo ndah... ai lap yu rili du deh kalo gitu :x

  • herro said:  

    Saya jg perokok. tapi dari artikel ini saya tdk temukan ada plusnya(kl dibandingin sama judulnya). untuk cukai sendiri itu diluar content rokoknya(bukan plusnya).

    Coba kita balik lagi ke komsumennya, mengapa bisa jadi seorang perokok??

    Alasan yang saya tau ada 2:
    1. Ikut2an/gaya2an
    2. Pelarian (saya termasuk yg ini)

    point 1 mungkin sudah tak perlu dijelaskan.
    point 2 sendiri butuh pemikiran untuk mengartikannya(jd sesuai pikirin masing2).
    contoh :
    saya merokok karena saya hanya orang yang lemah dalam menghadapi kerasnya hidup.
    saya selalu merasa terbebani dengan hal apapun walaupun hanya sepele atau yang seharusnya tidak menjadi beban.
    saya bukan orang yang selalu mendapat suport dari siapapun, taukah bagaimana rasanya menjadi orang yang kurang sekali mendapat perhatian/kasih sayang??

    itu hanya sebagian kecil contoh dari point yang saya sebut dengan pelarian. dan langkah yang saya ambil adalah merokok dan menjadi Blogger.

    tak sedikit orang yang pelariannya bukan ke rokok, tetapi Narkoba/bunuh diri/hal2 mengerikan lainnya.
    bagaimana, apa ada yang setuju??

    Wuiihhh, baru sadar. ternyata bisa juga nulis ala "orang bener".
    tolong jangan diartikan kl saya anak yg tidak disayang ortu ya. saya hanya ingin menampilkan sebuah pemikiran yang berbeda atau dari arah yang berlawanan.
    Jangan juga diartikan kl saya tidak mengerti bahaya merokok. sebaliknya saya sangat sadar akan bahayanya. mungkin karena belum menemukan tujuan hidup aja sehingga merasa hidup ini membosankan. mungkin kl udah punya pacar dan menikah akan berhenti total dari merokok.
    jangan juga diartikan kl saya loem pernah pacaran. saya sudah beberapa kali pacaran dan setiap x pacaran selalu berhenti merokok, trus putus ya jd perokok lg.
    jangan juga diar.."WOOOIIII, KAPAN KELAR NULISNYA........."

  • anita mui said:  

    klo merokok diharamkan entah berapa byk org akan mengalami strees,,klo dipaksa merokok takut dosa..gk mrokok pasti linglung...klo pbrik rokok ditutup..jutaan org jd pengangguran bisa2 maling jd merajalela..

  • Lyla said:  

    ngerokok mah byk negatifnya apalagi buat perokok pasif huhuhuh ngeri dah...

  • amik said:  

    rokok emang ga baik

  • Leave your response!

    Mohon untuk menyertakan nama dan identitas (alamat web) jika ingin berkomentar. Jika anda ingin ber-anonim, mohon cantumkan email dan nama anda.