Harga Premium Turun, Politis Atau Blunder?

2008-11-07 Leave a Comment

Akhirnya, kebijakan populis yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat itu datang juga. Pemerintah per 1 Desember 2008 akan menurunkan harga premium sebesar Rp 500,- menjadi Rp 5500,-. Sementara harga BBM jenis solar dan minyak tanah akan diturunkan dengan syarat, yaitu bila dalam jangka waktu 2 bulan harga minyak dunia stabil di kisaran US$ 60 per barrel. Beberapa hari yang lalu, saya sempat menuliskan tentang ketidaksetujuan saya tentang penurunan harga BBM (di artikel ini) dengan alasan bahwa penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi. Dan tampaknya, hal itu sedikit banyak akan terbukti.

Saya tidak mengerti, apakah penurunan harga tersebut benar-benar merupakan hasil analisa yang cermat, ataukah hanya sekedar bualan politik belaka. Ada beberapa hal yang aneh bagi saya dalam keputusan ini dan saya yakin benar, pemerintah mengerti beberapa hal ini. Berikut adalah keanehan-keanehan yang terjadi :
  1. Jika memang bertujuan untuk menaikkan daya beli masyarakat, mengapa pemerintah justru menurunkan harga premium, bukan solar? Keperluan industri akan solar jelas jauh lebih tinggi daripada premium. Jika begitu, mungkinkah harga-harga akan turun? Menyontek catatan teman saya di facebook, pemerintah justru memperbaiki daya beli orang-orang yang mempunyai banyak mobil, karena merekalah pemakai premium terbanyak. Jika harus menunggu hingga harga US $ 60 selama dua bulan beruntun, berapa persen peluangnya? Karena jika memang hal itu terjadi, maka ekonomi di dunia memang sudah memburuk. Tidak usah di demo pun, semua orang akan menurunkan harga BBM
  2. Menurunnya harga premium berarti bencana buat sopir angkot dan organda-organda lainnya. Mereka tak mungkin menurunkan tarif, tapi mereka pun akan kehilangan omzet angkutan karena akan banyak orang yang kembali menggunakan kendaraan pribadi. Dan Jakarta pun macet lagi
Mungkin dua hal tersebut adalah trade-off bagi pemerintah yang kelihatannya ingin menurunkan harga BBM secara bertahap. Untuk penurunan harga sebesar Rp 500,- saya bisa memahami karena pemerintah tahu benar, penurunan harga sebesar Rp 1.500,- tak akan berpengaruh signifikan terhadap inflasi. Hanya saja yang saya sesalkan, jika memang mereka mengerti hal itu, mengapa tetap menurunkan dengan harga yang "nggak niat"? Harga yang "nggak niat" itu justru akan menyulitkan mereka sendiri karena hal itu akan menjadi trigger untuk BBM jenis solar untuk turun harga. Dan jika hal itu terjadi terus menerus, harga bisa mencapai titik terendah dan subsidi bisa menggembung lagi. Padahal, dengan harga Rp 6000,- saja harga premium di Indonesia sudah yang termurah. Maaf, bukannya saya sok berbasis ekonomi pasar tidak peduli lagi dengan ekonomi kerakyatan, tapi menurut hemat saya daripada untuk menanggulangi subsidi BBM yang belum tentu digunakan oleh orang yang tepat, mendingan dana itu dialokasikan untuk pendidikan.

Logika yang cukup sulit diterima akal saya, semoga lain kali Bu Ani sudi untuk memberikan kuliah tambahan lagi bagi saya di mata kuliah Perekonomian Indonesia. Mungkinkah semua ini hanyalah aksi untuk kepentingan politik semata? Tapi ya sudah lah, daripada memikirkan harga minyak, lebih enak melihat berselancarnya saham Bumi Resource Tbk (BUMI) dalam perdagangan esok di luar auto rejection.

Salam,





Foto diambil dari sini
Tulisan hanyalah pendapat pribadi yang common-sense.

9 comments »

  • Fajar Indra said:  

    pertamax... (mumpung belom naik)

  • Syamsul Alam said:  

    Keduaxx...... tumben aku bisa jadi keduaxx disini..... mimpi apa yah......

  • haris said:  

    ya seharusnya memang solar juga diturunkan karena bahan bakar itu juga konsumsi masyarakat luas. tapi bagi sy pribadi, penurunan itu tetap harus disyukuri. he2

  • eeda said:  

    kalo solar ga turun ya percuma. Kasian tuh nelayan di tambaklorok ga bisa melaut gara2 solar mahal. Kapalnya dijual untuk nutupi kebutuhan sehari2

  • love-ely said:  

    Terlepas dari politis atau tidak, menurut saya kita menghadapi 2 (dua) pilihan yaitu :
    1) Menuruti tuntutan masyarakat.
    Dalam hal ini menurunkan harga BBM (kebijakan populis). Tetapi saya kira tidak otomatis harga barang dan jasa akan turun. Saya setuju harga solar juga diturunkan, karena sangat berpengaruh pada dunia industri, dan industri yang berkembang akan menghidupi banyak orang dan menyerap tenaga kerja.

    2) Menjaga ketahanan negara.
    Seperti kita ketahui, dalam era krisis ini, banyak negara goncang, bahkan ada yang "mengemis" pinjaman ke negara lain / IMF. Kita harus bersyukur sampai saat ini Indonesia cukup bertahan. Sesunguhnya ini momentum yang tepat, yaitu menggunakan surplus penjualan minyak untuk buy-back saham-saham perusahaan Indonesia yang dikuasai asing (mumpung harganya turun). Kedua gunakan surplus tersebut untuk menjaga ketahanan negara dalam situasi krisis. Bayangkan akibatnya jika sudah level negara yang goncang, perekonomian ambruk. Saya sendiri tidak bisa membayangkannya. Apa Mas Fajar bisa?

  • Tukang Nggunem said:  

    Lha daripada bengak bengok nang kene mbok uwis kowe njago presiden wae taon ngarep...piye...rupamu wes pantes didemo ngono kok...huahahahaha.... Rokok kok ra melu medhun ya regane...hhhh....

  • Irfan said:  

    dengan harga minyak turun, tentunya subsidi untuk premium juga jadi berkuran... Bisa dong di alokasikan ke sektor pendidikan dan kesehatan yang jelas2 berguna untuk masyarakat kecil...

    Menrut gue (hanya pendapat pribadi), pemerintah hanya melihat secara jangka pendek (asal rakyat bisa makan), kenapa dia gak ngeliat jangka panjang dengan memperbaiki sekolah2, memperbaiki mutu guru, membuat biaya sekolah murah atau gratis sama sekali... hal-hal tersebut kan bisa menjadikan penerus bangsa lebih cerdas, bisa mandiri, bisa mengubah nasibnya menjadi lebih baik.
    Penurunan 500 perak gak bakalan memperbaiki kondisi rakyat Indonesia...

  • Fajar Indra said:  

    @ Love-Ely : setuju untuk ide menggunakan surplus penjualan minyak untuk buy-back saham-saham perusahaan Indonesia yang dikuasai asing (mumpung harganya turun)

    @ irfan : dengan harga minyak turun, tentunya subsidi untuk premium juga jadi berkurang? apa nggak kebalik mas?

    menurut hemat saya, justru dengan semakin banyaknya surplus pada minyak maka akan semakin banyak pula likuiditas pemerintah untuk dialokasikan ke pos-pos yang lain dan tak melulu mensubsidi rakyat yang belum tentu produktif

  • enhal said:  

    hemmm, persfektif luasnya kebijakan tu memang layak, namun itu hanya semata-mata sebagai amunisi menuju pertarungan 2009...

  • Leave your response!

    Mohon untuk menyertakan nama dan identitas (alamat web) jika ingin berkomentar. Jika anda ingin ber-anonim, mohon cantumkan email dan nama anda.