Showing posts with label Common Sense. Show all posts
Showing posts with label Common Sense. Show all posts

Is Corporate Value a Bull Shit?

2009-03-03 6 comments

Sebulan lebih sudah saya tidak menulis artikel dalam blog ini. Entah mengapa, bulan Februari lalu serasa menjadi bulan terpadat dalam kehidupan saya di tahun 2009. Dan akhirnya, di awal Maret ini, saya memiliki kesempatan untuk menulis lagi. Dan kali ini, saya akan menulis sebuah opini tentang sebuah permasalahan yang klise, akan tetapi sangat penting bagi saya. Sebuah opini tentang perlu tidaknya corporate value dari sebuah perusahaan dalam rangka mencapai tujuan akhirnya yaitu mencetak profit.

Segalanya diawali dengan sebuah perdebatan kecil antara saya dan teman saya ketika kami menyelesaikan penyusunan business plan untuk semifinal internasional L'oreal Estrat Challenge episode 9 beberapa waktu lalu. Teman saya menyeletuk, bahwa perusahaan itu diciptakan untuk meraih profit setinggi-tingginya. Itulah value yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Adapun slogan-slogan yang mereka buat adalah omong kosong belaka, atau lebih tepatnya hanyalah pemanis bagi perusahaan di mata konsumen, supaya lebih terlihat care dan akhirnya bisa 'mengelabui' konsumen dan meraih optimum consumer surplus. Benarkah demikian?

Memang, hampir semua buku teks ekonomi atau manajemen, perusahaan itu 'katanya' diciptakan untuk mengikuti motif ekonomi, yaitu meraih hasil yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sebuah doktrin tua yang usang bagi saya. Saya lebih suka menyebut kata pengorbanan yang efektif dan efisien. Dan dalam hal ini, motif ekonomi itu adalah tujuan akhir, bukan nilai perusahaan itu sendiri. Well, pada akhirnya kami memang menyepakati, bahwa 'omong kosong' bukanlah term yang tepat untuk mendefinisikan posisi slogan sebuah perusahaan. Disini saya akan membahas, mengapa saya pribadi menolaknya? Ada beberapa alasan, yaitu:
  1. Profit maksimum adalah tujuan akhir, bukan jiwa yang dimiliki perusahaan. Saya membagi value dari sebuah korporat menjadi dua bagian, yaitu business value dan corporate value. Business value biasanya tercermin dari target profitabilitas yang mereka sasar, sementara corporate value adalah ibarat pedoman sebuah perusahaan untuk mencapai business value. Nokia dengan simbol "connecting people"-nya menyiratkan sebuah semangat yang luar biasa dari pihak korporatnya untuk menghubungkan orang-orang di seluruh dunia dengan produk yang mereka sediakan.
  2. Corporate value merupakan identitas perusahaan. So, what makes you different? Selama ini orang selalu terpaku pada diferensiasi produk atau brand. Namun mereka juga tidak boleh melupakan bahwa perusahaan juga harus memiliki diferensiasi. Jika anda berpendapat bahwa perusahaan anda memiliki value yaitu menciptakan lapangan kerja, meraih profit, dan bla bla bla, maka semua perusahaan di planet bumi ini juga memiliki value yang sama dengan perusahaan anda. Yang membedakan adalah how to get that profit. Proses untuk mendapatkan profit tersebut adalah jiwa dari perusahaan itu sendiri. Jiwa itulah yang akan menjadikan arah berjalan perusahaan anda, sehingga perusahaan anda tidak tersesat di tengah gurun kering berpasir tanpa air setetes pun.
  3. Corporate value membentuk budaya organisasi dalam perusahaan. Well, saya tidak mau terlalu banyak berteori disini karena artikel ini sendiri saya masukkan dalam kategori common sense. Namun penting untuk diketahui, bahwa corporate value adalah salah satu variabel yang dapat membentuk budaya perusahaan. Budaya perusahaan tentunya sangat penting untuk 'ditentukan' karena salah satunya dari variabel itulah, stabilitas internal dalam manajerial perusahaan akan dibentuk. Corporate value ini biasanya tertuang dalam bentuk visi dan misi yang akan menjadi motivasi sekaligus gairah perusahaan untuk meraih optimum profit.
Tiga alasan itulah yang kurang lebih membuat saya kurang sepakat jika ada orang yang menyebutkan bahwa slogan perusahaan adalah bull shit. Ini hanyalah pendapat pribadi saja. Kalau usut punya usut, saya lebih setuju mengatakan corporate social responsibility sebagai kegiatan bull shit perusahaan karena saya lebih menganggap kegiatan itu sebagai salah satu tools pemasaran perusahaan dibandingkan ajang 'pencucian dosa' perusahaan itu sendiri terhadap konsumennya.

Salam,






Foto diambil dari sini

Read the full story

Fatwa Haram Golput & Jalan Pintas Pemilu

2009-01-29 27 comments

"Men can only endure a certain degree of unhappiness; what is beyond that either annihilates them or passes by them and leaves them apathetic"
Johann Wolfgang von Goethe

Beberapa hari yang lalu, MUI lewat ijtihad-nya di Padangpanjang menetapkan sebuah fatwa yang cukup kontroversial di berbagai kalangan, yaitu "keharaman" bagi golongan putih atau golput. Sejumlah pendapat pro dan kontra berdatangan menyambut fatwa baru MUI tersebut. Ada yang bilang, bahwa pemberlakuan fatwa ini sesuai dengan syari'at islam, namun ada juga yang mengatakan bahwa fatwa ini membelenggu kebebasan setiap orang, karena pada dasarnya tidak memilih itu juga merupakan pilihan. Saya sendiri sudah melakukan diskusi dengan teman-teman dari Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Ilmu Politik UI, & JIL di facebook. Dan hasilnya, saya berkesimpulan bahwa fatwa itu terlalu berlebihan. Pada awalnya, saya pribadi mempertanyakan keabsahan hukum ijtihad tersebut.

Secara substansi, memang agak masuk akal kalau fatwa itu digunakan untuk pemilihan eksekutif (bukan legislatif) dengan menggunakan logika "lebih baik punya pemimpin jelek daripada tidak punya pemimpin sama sekali". tapi untuk urusan keterwakilan adalah sesuatu hal yang berbeda. Saya pribadi enggan memilih pada pemilu legislatif mendatang karena saya tidak merasa akan terwakili oleh orang-orang yang saya sendiri tidak pernah kenal. Untuk apa mempercayakan sesuatu kepada pihak yang secara subyektif menurut kita tidak kompeten dan tidak ada lain yang lebih kompeten?

Dalam islam, jika kita memilih sesuatu yang jelas-jelas tidak akan menerapkan hukum Allah maka haram hukumnya karena suara yang kita berikan akan menjadi wasilah bagi mereka untuk membuat hukum atau perundang-perundangan yang bukan bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Apalagi, kalau dilihat paradigma yang dipakai oleh MUI yaitu manfaat dan mudhorot yang dijadikan landasan, dalam Islam kaidah tersebut tidak bisa sepenuhnya digunakan dalam hal-hal yang hukumnya haram. Dalam islam, hukum memilih pemimpin yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar melalui penerapan syariat Islam secara kaffah adalah fardhu kifayah. Sedangkan memilih wakil rakyat yang mengemban tugas amar makruf nahi munkar adalah mubah, mengingat hukumnya mengikuti hukum wakalah (perwakilan) dimana seseorang boleh memilih, boleh juga tidak. Nah, kalimat yag digaris bawahi itulah yang membuat saya mempertanyakan keabsahan ijtihad yang dilakukan oleh MUI.

Dalam hal ini, kita sebagai konstituen hukum negara yang bukan bersumber dari hukum islam, dan agak aneh jika menggunakan basis pemikiran islam untuk memfatwakan sebuah aktivitas politik dalam ranah yang bukan dari pemikiran islam. Hal ini sama saja dengan memaksakan sebuah budaya Jawa kepada sebuah budaya non-jawa yang sangat berbeda. Menurut saya, terjadi pencampur-adukan kerangka berpikir dalam penentuan fatwa haram ini.

Kuantitas, Kualitas, & Jalan Pintas

Sebenarnya, aktivitas golput itu sendiri juga bisa dijadikan bahan evaluasi untuk kedepan. Baik secara kualitas, maupun kuantitas. Jikalau para konstituen dipaksa untuk memilih dengan iming-iming fatwa haram, maka saya rasa, hasilnya tidak akan maksimal. Kita tidak akan pernah tahu, sejauh mana tingkat keterwakilan pemilih dalam pemerintahan, jika kita menggunakan logika umum. Lagi pula, mengapa kita harus membeli kucing dalam karung? ketika semua kucing itu ada dalam karung, dan tidak ada yang terlihat?

Saya khawatir, fatwa ini merupakan cerminan budaya instan masyarakat Indonesia yang ketakutan jika tingkat apatisme melonjak tinggi. Seharusnya memang di diagnosa dahulu, mengapa tingkat golput di Indonesia itu tinggi. Saya ambil contoh pemilu 2009 sekarang, gaungnya sangat tidak terasa. Padahal April depan orang harus menggunakan hak suaranya. Seharusnya KPU-lah sebagai penyelenggara yang bertanggung jawab tentang potensi golput karena kurangnya komunikasi itu, bukan dibebankan kepada para konsitituen yang ingin memberikan hak pilihnya.

Saya mengerti, fatwa itu tidak akan memiliki legalitas apapun dalam hukum dan perundang-undangan di Indonesia. Namun hal ini bisa mempengaruhi rasionalitas pemilih di Indonesia yang sudah tidak 100% rasional. Maka dari itu, jangan heran jika nantinya, dari sisi kuantitas pemilu bisa di bilang sukses, namun tidak dari sisi kualitas. Entah mengapa saya semakin merasa bahwa kondisi Indonesia sekarang mirip seperti halnya Eropa pada masa Dark Age sebelum Reinassance, dimana gereja katolik begitu berkuasa dan mempengaruhi perkembangan kehidupan, kebebasan, & ilmu pengetahuan. Mungkin perlu 500 tahun lagi buat negaraku yang aman dan makmur ini supaya bisa maju. What the fuckin'loser, Indon !!!

Salam,





Foto diambil dari Jalansutera


Read the full story

RUU BHP, Antara Breakthrough & Kepercayaan

2008-12-24 13 comments

"Tidak ada sesuatu di dunia ini yang menawarkan return yang tinggi dengan resiko yang rendah, kecuali anda hidup di Surga."

Sebelum membaca tulisan saya, mohon singkirkan dulu paradigma pro & kontra tentang RUU BHP di benak anda. Mari sama-sama kita kaji secara cerdas dan holistik. Disini saya tidak bertindak sebagai pihak yang pro maupun kontra karena bagi saya, ada beberapa hal yang tertuang di UU tersebut, sangat bagus jika dapat diimplementasikan dengan baik. Namun ada juga beberapa hal yang agak "aneh" menurut saya. Saya sendiri tidak terlalu jago dalam menganalisa masalah hukum dan perundang-undangan karena memang bukan core saya, maka dari itu, di sini saya akan mencoba menganalisa dengan logika umum alias common sense. Saya akan sangat menghargai adanya masukan yang tidak bersifat emosional pada nantinya. Bagi anda yang ingin mendownload RUU tersebut, silakan klik disini (versi 12 Desember 2008).

Banyak yang mengatakan bahwa RUU BHP, dilihat dari aspek filosofis, adalah bentuk dari komersialisasi pendidikan karena akan membawa pendidikan ke ranah hukum privat. Seperti apa yang dikatakan ketua BEM UI jaman sekarang yang katanya cerdas dan intelek tersebut. Bagi saya, adalah suatu hal yang subyektif jika kita berani meng-klaim sebuah UU dari aspek filosofis tanpa bisa memperlihatkan tuangan filosofis tersebut dalam bentuk redaksional dalam konteks perundang-undangan (aspek yuridis). Begitu pula tentang aspek sosiologis perundang-undangan. Ketiga aspek tersebut memiliki benang merah antara satu sama lain.

Well, berhubung saya bukan seorang mahasiswa hukum dan saya kurang pandai berfilosofi, saya akan coba meninjau UU BHP ini dari aspek sosiologis, yaitu tentang kesiapan republik ini menghadapi implementasi dari UU tersebut. Banyak yang mengatakan bahwa UU ini mengandung komersialisasi yang luar biasa yang bisa "membunuh" pendidikan di Indonesia. Tapi jujur, dari 69 pasal yang ada, saya hanya kurang sreg dengan pasal 46 ayat 1 yang berbunyi
"Badan hukum pendidikan wajib menjaring dan menerima Warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dan kurang mampu secara ekonomi paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari jumlah keseluruhan peserta didik yang baru."
Mengapa mesti ada kata-kata paling sedikit? Hal itulah yang membuat saya kurang sreg karena pasal tersebut memungkinkan para Warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi tapi kurang mampu secara ekonomi di luar angka 20% bisa terabaikkan. Seharusnya itulah yang dikritik. Selain itu, masalah evaluasi BHMN yang belum selesai-selesai juga bisa menjadi batu sandungan berikutnya bagi UU ini.

Tanggung Jawab Negara

Saya sangat setuju jikalau negara harus bertanggung jawab secara penuh dengan pendidikan. Namun, apakah otonomi yang ditawarkan oleh UU BHP akan mereduksi tanggung jawab tersebut? Saya rasa tidak 100 persen benar. Pemberian otonomi atau dalam istilah manajerial sering disebut desentralisasi hanya memberikan span of control yang lebih panjang kepada divisi-divisi di bawahnya tanpa mengurangi kontrol dan tanggung jawab atasan. Dalam hal ini, negara berfungsi sebagai "top manager" bagi pendidikan di Indonesia. Desentralisasi ini akan lebih memberikan kreativitas yang lebih kepada pihak divisi dibawahnya meski tetap saja memiliki sebuah trade-off berupa agency problem atau gap antar kepentingan dalam setiap lapisan manajerial. Nah, trade-off tersebut pasti tetap akan ada dalam segala bentuk organisasi sepanjang informasi masih belum tersebar secara sempurna (asymmetric Information).

Masalahnya sekarang ada pada krisis kepercayaan rakyat sebagai stakeholder pendidikan terhadap pemerintah pusat sebagai "CEO"-nya. Masalah terkait dengan agency problem tadi. Banyak yang mengkhawatirkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan oleh PT yang memungkinkan terjadinya "kontrol sepihak". Jika sudah begitu, masalahnya bukan di UU BHP lagi, tapi lebih ke mental bangsa yang harus diluruskan. Lantas, apakah ada UU di Indonesia yang telah di sahkan selama ini mampu mengatasi agency problem tersebut secara sempurna? No way !!! Bahkan UU Pornografi sekalipun !!!



Komersialisasi

Saya kurang tahu pasti, mengapa para mahasiswa jaman sekarang begitu alergi mendengar kata-kata liberalisasi, komersialisasi, kapitalisasi, dsb. Padahal kalau menurut saya, kata-kata tersebut bisa sangat pas digunakan tergantung pada konteksnya. Jadi tidak bisa di-generalisir dengan seenaknya. Saya pun mencoba melihat tentang kendala komersialisasi di UU BHP dan saya kembali tidak melihat masalah yang ada.

Ada kekhawatiran bahwa praktik liberalisasi akan berujung pada praktik monopoli karena memungkinkan terjadi akumulasi modal pada perorangan yang mampu bertahan di dalam persaingan bebas (liberalisme), akumulasi modal ini pada perorangan ini akan menjadi suatu kekuatan tersendiri karena ia telah berhasil mengalahkan pesaing-pesaingnya, sehingga apabila tidak diimbangi dengan regulasi dan regulator yang kuat (Negara) maka yang terjadi adalah monopoli. Hal inilah yang menjadi ketakutan utama (disamping ketakutan-ketakutan lain) para agen penolak RUU BHP.

Sesuatu yang jelas 180 derajat berlawanan dengan pandangan saya. Liberalisme memang memungkinkan merger jikalau kue pasar yang diperebutkan mengecil sehingga untuk bermain-main dengan skala kecil bukanlah sebuah keputusan ekonomis. Namun filosofi dari liberalisme sendiri sepemahaman saya adalah konsep menuju pasar persaingan sempurna. Mungkinkah hal itu terjadi? jelas tidak, karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Maka dari itu, terbentuklah pasar persaingan monopolistik karena setiap pasar memang memiliki kekuatan monopoli. Liberalisme adalah persaingan, dimana negara tidak punya hak untuk mengintervensi persaingan tersebut (dalam kondisi ekstrim). Maka dari itu, sangat aneh jika ada kekhawatiran terjadinya monopoli karena penggabungan kekuatan. Hal ini dijelaskan dalam matriks pay-off game theory yang bertajuk Prisoner's Dilema.

Implementasi di Indonesia

Lantas apa kaitannya konsep-konsep diatas dengan pendidikan? Begini, dengan adanya persaingan bebas justru menuntut setiap perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitasnya karena posisi bersaing. Diferensiasi apapun yang akan ditawarkan tidak akan pernah berguna jikalau tidak disertai oleh core product yang bagus. Mereka (PT) yang tidak berkualitas akan gulung tikar dan tidak lagi menjadi "sampah" bagi pendidikan di Indonesia. Sehingga kualitas sarjana yang didambakan akan membaik. Hal ini juga dilakukan oleh kampus-kampus yang sekarang tergabung dalam Ivy League di AS sekitar se-abad yang lalu. Hasilnya? sekarang mereka adalah yang terbaik di dunia. Saya pikir, sesuatu yang sangat berat dilakukan nanti adalah masalah transisi kurikulum. Tapi secara over-all, ini adalah sebuah gebrakan yang baik menurut hemat saya untuk jangka panjang, dengan catatan-catatan sebagai berikut:
  • Kendala Geografis. Sebuah masalah yang akan ditimbulkan UU BHP ini adalah adanya peluang terjadinya pemusatan aktivitas pendidikan di wilayah tertentu yang memiliki perputaran uang yang tinggi. Maka dari itu, bagi pelosok-pelosok desa yang hanya ada sedikit uang berputar, akan sangat sulit mendapatkan pendidikan tinggi.
  • Kendala Sosiologis. Generalisasi rakyat atas UU BHP yang identik dengan komersialisasi pendidikan juga menjadi masalah tersendiri. Media di Indonesia menurut saya kurang proporsional dan kurang cerdas dalam menyikapi isu tersebut. Saya yakin, para demonstran UU BHP tersebut kebanyakan akan cengok ketika ditanya :"Pasal Mana Yang Menunjukkan Adanya Komersialisasi?"
    Pengaruh media juga yang menyebabkan informasi tentang BHP menjadi simpang siur. Seharusnya media tidak seenaknya meng-klaim tanpa menyebutkan UU-nya. Penolakan UU Pornografi sebenarnya sudah terlihat baik karena kritikan langsung berkaitan dengan aspek yuridis, dan hal itu disampaikan oleh media
  • Kendala Infrastruktur. Jikalau pemerintah konsisten dengan konsep persaingan yang dianut, seharusnya kendala ini tidak akan bermasalah karena adanya direct foreign investment yang lebih besar. Untuk saat ini, kebijakan pemerintah untuk mengklasifikasi PT berdasarkan kemampuan untuk "ber-BHP" merupakan solusi awal untuk negara yang sedang membangun.
  • Kendala Birokrasi & Agency Problem. Ini akan menjadi masalah besar jikalau birokrasi di Indonesia masih awut-awutan. Masalah kepercayaan yang kurang dari rakyat kepada pemerintah juga terlihat jelas disini. Contoh konkritnya adalah aksi yang ada selama ini karena kekhawatiran timbulnya eksploitasi terhadap mahasiswa. Padahal filosofi BHP yang tertuang dalam UU-nya tidak merefleksikan kondisi itu.
  • Satu hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah advokasi. Dengan sistem advokasi dari mahasiswa yang bobrok, apapun kondisinya akan tetap menyulitkan. Jangan sampai kasus advokasi di penerimaan mahasiswa baru di UI tahun 2008 lalu terulang lagi. Katanya BOP berkeadilan, tapi pihak mahasiswa yang capek-capek "berjuang" malah dikerjain sama rektorat. Saya hanya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan para mahasiswa tersebut.
Menurut hemat saya, daripada capek menggaungkan penolakan undang-undang yang konon katanya menjadi salah satu butir perjanjian yang disepakati dalam ratifikasi dengan IMF dan World Bank, mending anda semua berpikir cerdas untuk menyiapkan mekanisme advokasi yang tangguh. Seperti apa kata nabi besar Sun Tzu,
"Jika anda kalah dalam sebuah medan pertempuran, pindahkan saja medannya ke medan yang anda lebih kuasai, dan hancurkan lawan anda."
Sun Tzu

Setelah ini semua, silakan disimpulkan, apakah saya mendukung UU BHP atau tidak, apakah dengan tulisan ini, saya "bersama mereka" atau "melawan mereka".

Salam,






Foto diambil dari sini
Download RUU BHP versi 12 Desember 2008 disini






Read the full story

Efisiensi Pasar Parpol di Indonesia

2008-12-02 11 comments

"Efficient Market is a Bullshit !!!"
Philip Greenspun

Di awal tahun 1960-an, seorang mahasiswa Ph D dari University of Chicago, di negeri paman sam yang ditengarai bernama Eugene Fama dengan tergopoh-gopoh akhirnya berhasil menyelesaikan tesisnya. Sebuah tesis yang pada akhirnya menjadikan pertentangan tersendiri di antara geng-geng pialang saham di Wall Street dengan investor-investor filosofis seperti eyang guru Warren Buffet. Tesis itu dikenal dengan nama efficient-market hypothesis. Tahun 1965, bersama studi empiris yang telah dilakukan Paul Samuelson, ia menyatakan kepada dunia alasan pengemukaan hipotesis tersebut. Alasannya tiada lain dan tiada bukan karena random walking yang terjadi dalam pasar saham. That's it, harga saham di masa depan sesungguhnya tidak bisa diprediksi oleh siapapun juga, termasuk para analis sekuritas ternama. Karena jika harga tersebut bisa diprediksi, maka pasar akan berlangsung efisien.

Sederhananya begini, efficient-market hypothesis menyatakan bahwa pasar saham itu efisien secara penyebaran informasi. Ada tiga macam hipotesis ini, yaitu weak-form, semi-strong form, & strong form. Dalam strong form hypothesis dinyatakan bahwa menyatakan bahwa semua informasi yang ada baik itu publik atau privat sudah terlihat di harga saham alias tidak ada lagi asymmetric information sehingga segala analisa saham tidak lagi bermanfaat. Ini adalah hipotesis yang sangat ekstrim. Namun yang jadi pertanyaan, apakah pasar tersebut efisien? Jawabannya cenderung tidak.

Mengapa tidak efisien? hal ini dikarenakan banyaknya informasi asimetris yang beredar di pasar. Sebagai contoh begini, asumsikan anda belum mengetahui apapun tentang laptop dan anda memiliki uang berlimpah seperti Syeh Puji. Anda ingin membeli sebuah laptop kepada saya, dan saya memberi dua pilihan laptop dengan spesifikasi yang sama, yaitu laptop dengan harga Rp 7 juta dan laptop dengan harga Rp 6 juta, terlepas dari apapun merknya. Pertanyaan saya, apakah sebagai pembeli anda langsung bisa memastikan bahwa laptop dengan harga Rp 7 juta itu lebih baik daripada laptop dengan harga Rp 6 juta? Apakah anda tahu dengan pasti berapa biaya produksi kedua laptop tersebut? Anda mungkin tidak tahu kalau laptop Rp 6 juta tersebut pernah jatuh ataupun terkena force majeur lainnya bukan?



Informasi tentunya takkan tersebar secara sempurna karena kemungkinan besar, penjual akan menjaga beberapa informasi rahasianya. Hal itu yang membuat pasar tidak efisien. Selain itu, secara umum ada dua hal lagi yang menyebabkan pasar tidak efisien. Pertama adalah tingkah laku pembeli, sejauh mana pengetahuan dia akan produk tersebut secara umum dan sejauh mana tingkat risk averse-nya. Kedua adalah tingkah laku pelaku pasar nakal, yang hobby menimbun atau "mengguyur" barang di pasar dengan harga di bawah harga keseimbangan sehingga hal itu membuat harga bergoncang.

Nah, apa kaitannya hipotesis diatas dengan parpol di pemilu 2009? Begini, saya menganalogikan mereka seperti sebuah komoditas barang yang akan diperjual-belikan dalam suatu pasar. Jika pasar memang efisien, maka akan ada dua hipotesis turunan yang tak terhindarkan lagi :
  1. Hasil pemilu 2009 nanti akan menjadi sebuah gambaran mengenai parpol terbaik dan tidak terbaik. Partai pemenang pemilu 2009 (berikut caleg-calegnya) adalah partai terbaik yang ada saat ini
  2. Pemilih mengetahui segala informasi yang ada sehingga mereka bisa dipastikan memilih yang terbaik menurut mereka
  3. Partai yang terbentuk memang benar ingin mewakili rakyat, dan bukan hasil spekulasi pemain besar untuk memecah suara lawan (political trade).
  4. Janji-janji dan materi kampanye merupakan murni ide mereka untuk memajukan bangsa, bukan semata-mata untuk menarik simpati rakyat dan juga menjatuhkan pihak lain.
Sejumlah pialang di Wall Street sering mengatakan bahwa pasar efisien hanyalah omong kosong belaka, utopis, dan tidak akan pernah terjadi di dunia ini. Hal itu diungkapkan karena tidaklah mungkin informasi tersebar secara sempurna dan kita tidak pernah tahu niat utama investor membeli saham. Dan menurut saya, pasar efisien juga mustahil terjadi dalam persaingan merebut konstituen di ajang pemilu 2009 mendatang. Mengapa? maaf jika saya terkesan sok tahu. Poin nomor 2 dan 3 (terutama nomor 2) menurut saya adalah hal yang sangat kecil kemungkinannya. Mungkin perlu studi empiris lagi untuk membuktikan poin nomor 3, tapi setidaknya saya melihat kejadian itu secara common-sense.



Untuk poin nomor 4, secara subyektif saya melihatnya sebagai hal yang paling utopis diantara yang lain. Saya bukan simpatisan partai manapun, namun saya agak miris melihat materi kampanye yang diajukan mereka. Secara konsep pemasaran memang tidak ada salahnya, namun justru hal itulah yang membuat pasar politik di Indonesia semakin tidak efisien. Sebagai contoh, iklan parpol yang menyebut 80% masyarakat Indonesia menyebut bahwa pemerintahan sekarang gagal mengendalikan harga sembako. Ada dua hal yang saya garis bawahi dari iklan diatas. Pertama, angka 80%. Sungguh, saya masih tidak percaya kalau angka itu bukan penipuan statistik. Kita harus melihat dulu, berapa ukuran sampel-nya dan jenis sampling apa yang digunakan oleh surveyor tersebut. Kedua, entah karena parpol tersebut tahu atau tidak, melonjaknya harga sembako sedikit banyak dipengaruhi oleh krisis pangan dunia sebagai multiplier effect dari krisis energi yang melanda dunia medio 2008 lalu. Contoh lain adalah iklan yang menggunakan endoser seorang tokoh kontroversial yang hingga kini masih menjadi perdebatan tentang "kepahlawanannya". Hal ini tidak lebih dari sebuah anti-marketing yang tentunya memiliki beberapa tujuan-tujuan politis lainnya.

Pencalonan berbagai artis yang tidak kompeten juga semakin memperkuat kondisi ketidakefisienan pasar politik di Indonesia. Jujur, diantara yang artis-artis yang telah dan akan menjadi anggota legislatif, bagi saya hanya Angelina Sondakh yang pantas disebut kompeten. Yang lain mungkin harus belajar 10-20 tahun lagi. Saya sering melihat betapa "hebat-nya" mereka di media, yang terkadang seolah jauh lebih hebat dari para doktor lulusan Harvard maupun Princeton.

Kesimpulannya adalah, pasar politik di Indonesia tidak efisien. Memang tidak ada yang efisien di muka bumi ini. Namun bisakah kita menuju kurva efisiensi tersebut? Pertanyaan yang utopis bukan?

Salam,





Gambar diambil dari berbagai sumber
Artikel ini adalah salah satu artikel terpanjang dan terutopis yang pernah saya tulis. Mohon jangan ditertawai kepolosan saya ya.



Read the full story

Bumi-ku Yang Terancam Punah

2008-11-21 12 comments

"Takutlah saat orang lain tamak dan tamaklah saat orang lain takut!"
Warren Buffet

Tanggal 12 Mei tahun 2008, genap 10 tahun Tragedi Semanggi yang menewaskan beberapa manusia itu terjadi. Saat itu pula seorang mahasiswa yang tengah mencoba peruntungannya di dunia pasar modal dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi akhirnya memutuskan untuk memasukkan saham PT Bumi Resource Tbk (BUMI) ke dalam keranjang portofolionya. Alasan sederhana diluar perhitungan resiko yang begitu kompleks tidak lain adalah akselerasi profitabilitas perusahaan tambang ini yang begitu fantastis. BUMI saat itu didaulat sebagai perusahaan batubara yang memiliki pertumbuhan aset kedua terbesar di dunia. Dan sang investor muda pun tak segan merogoh koceknya untuk membeli beberapa lot saham BUMI dengan harga Rp 7265,- per lembarnya.

Namun apa daya, krisis keuangan global dan aksi korporasi PT Bakrie & Brothers (BNBR) "menjual" 35% saham BUMI kepada Northstar Pacific hanya karena alasan likuiditas benar-benar mengeruk "kekayaan" dari BUMI. Saat ini sejumlah pemegang saham BUMI antre dalam melakukan penjualan saham naas tersebut, tapi sialnya hanya sedikit pihak yang mau membelinya. Maka tidak heran jika volume perdagangan BUMI kamis lalu hanya 11.703.500 lembar saja atau 23.407 lot saja! Hal ini jauh dari rata-rata kapitalisasi pasar BUMI dalam lima bulan terakhir yaitu sebesar 155.987.347 lembar! Alih-alih melakukan profit taking, sang investor pun harus rela merealisasikan kerugiannya menjelang lebaran lalu sebesar Rp 4097,- per lembarnya atau sekitar 56.15% karena ketakutan akan meluncurnya harga saham tersebut. Dan ternyata, prediksi sang investor sedikit banyak benar. Hingga tulisan ini ditulis, harga saham BUMI pada penutupan kamis kemarin adalah Rp 860,- per lembarnya. Harga disinyalir akan turun lebih jauh lagi hingga level Rp 600,- per lembar!



Sebuah anomali memang, perusahaan yang dinilai begitu bonafit akhirnya luluh lantah berantakan di pasar saham. Memang, ada sebuah ketamakan dari investor Mei lalu ketika ia membeli saham BUMI. Saham yang sudah terlalu overvalue di harga Rp 8000-an dianggapnya merupakan saham dalam kategori blue-chip yang akan terus menerus mengalami kenaikkan. Kenyataannya adalah sebaliknya. Sang investor mengetahui dengan pasti karena melambungnya harga batubara saat itu, adalah faktor yang membuat harga saham batubara dunia mengalami bubble. Dari kondisi itu, mungkinkah kita masih percaya jasa para analis investasi? Jawabannya bisa iya bisa tidak, tergantung penggunaan. Yang pasti, kasus BUMI ini menunjukkan bahwa pasar tengah tidak efisien.

Mungkin seorang investor nilai seperti Warren Buffet akan tertawa terbahak-bahak dan menganggap bahwa saham-saham seperti BUMI adalah sebuah awal baginya untuk kembali mengokohkan diri sebagai manusia terkaya di dunia. Namun kita nantikan, apakah reversal effect yang diharapkan oleh para investor nilai akan muncul dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan.

Nasib rupiah, mata uang yang mem-Bumi

Tak hanya BUMI, Rupiah pun akhirnya ikut mem-BUMI. Saat ini, perlahan tapi pasti US $ akan menembus level Rp 13000,-. Hal ini diperparah dengan keengganan masyarakat melepas dolar karena ekspektasi mereka akan dolar yang terus naik. Permintaan akan dolar pun bertambah, sehingga harganya semakin mahal. Sialnya, melonjaknya harga dolar ini tidak serta merta menguntungkan pihak eksportir karena kondisi negara pengimpor di dunia tengah mengalami resesi ekonomi.



Pemerintah pusing, mulai dari himbauan, teguran (dua senjata utama pemerintah), penjaminan dana nasabah maksimum Rp 2 Milyar,- hingga mempertahankan BI Rate sebesar 9,5% sudah dilakukan. Mereka berusaha agar capital outflow bisa ditekan sehingga uang itu tidak "kabur" kemana-mana seperti halnya krisis ekonomi tahun 1997. Namun mereka juga mengalami trade-off dimana sektor riil Indonesia jadi kurang bergairah karena tingginya tingkat suku bunga acuan yang mengakibatkan kredit usaha di Bank menggembung. Kredit untuk perumahan pun berubah menjadi sesosok monster yang menakutkan bagi nasabah. Untuk menghadapi permasalahan ini, BI pun telah mencoba melakukan operasi pasar terbuka seperti melakukan repo (repurchase agreement) surat utang negara dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) melalui mekanisme lelang.

Pendapat pro dan kontra mengenai bertahannya BI Rate pun bermunculan. Pihak kontra mengatakan, sebaiknya pemerintah menggairahkan dulu sektor riil karena hal ini akan menunjang pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Karena percuma saja mempertahankan modal ekuitas jika toh akhirnya pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan. Nah, hal ini akan mengacu kepada lesunya nilai tukar.

Sementara pihak yang pro mengatakan bahwa perlunya pertahanan BI Rate adalah aksi capital control yang dilakukan demi mempertahankan arus modal dalam negeri. Posisi selisih aliran dana asing memang masih positif, namun hal ini dikhawatirkan akan menipis. Indonesia sendiri saat ini masih termasuk golongan emerging market[1] yang dianggap memiliki pertumbuhan ekonomi dan industri cukup baik. Jika uang tersebut bisa bertahan lebih lama, maka hal ini akan mempengaruhi nilai tukar rupiah, terhadap dolar dan yen.

Memang selalu ada trade-off antara keputusan jangka pendek dan jangka panjang. Dan hal itulah yang membuat saya ngeh, betapa sulitnya menjadi menteri keuangan. Tapi anehnya, para mahasiswa dan LSM yang hobby berdemo untuk menurunkan harga BBM tak ada yang bersuara untuk kasus ini. Padahal mereka kan kaum intelektual karena buktinya analisa fundamental mereka menganggap bahwa penurunan harga premium itu adalah sebuah keharusan. Pun jika ada yang berdemo, mereka hanya bicara tentang "Jangan Utang Kepada IMF". Mungkinkah masalah ini terlalu ringan untuk mereka?

Tapi paling tidak, keputusan Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada IMF di KTT G-20 adalah suatu hal yang melegakan.

Salam,





1 Data dari Morgan Stanley Emerging Markets Index MSCI Emerging Markets
2 Data keuangan diambil dari Yahoo Finance
3 Gambar Bumi tanpa grafik diperoleh dari Googling (lupa nama situsnya... maaf ya buat yang ngerasa dibajak... hehehe)
4 Temen saya pernah nulis tentang 3 mitos di pasar modal (tulisannya di notes facebook). Mungkin bisa dilihat disini sebagai tambahan




Read the full story

Harga Premium Turun, Politis Atau Blunder?

2008-11-07 9 comments

Akhirnya, kebijakan populis yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat itu datang juga. Pemerintah per 1 Desember 2008 akan menurunkan harga premium sebesar Rp 500,- menjadi Rp 5500,-. Sementara harga BBM jenis solar dan minyak tanah akan diturunkan dengan syarat, yaitu bila dalam jangka waktu 2 bulan harga minyak dunia stabil di kisaran US$ 60 per barrel. Beberapa hari yang lalu, saya sempat menuliskan tentang ketidaksetujuan saya tentang penurunan harga BBM (di artikel ini) dengan alasan bahwa penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi. Dan tampaknya, hal itu sedikit banyak akan terbukti.

Saya tidak mengerti, apakah penurunan harga tersebut benar-benar merupakan hasil analisa yang cermat, ataukah hanya sekedar bualan politik belaka. Ada beberapa hal yang aneh bagi saya dalam keputusan ini dan saya yakin benar, pemerintah mengerti beberapa hal ini. Berikut adalah keanehan-keanehan yang terjadi :
  1. Jika memang bertujuan untuk menaikkan daya beli masyarakat, mengapa pemerintah justru menurunkan harga premium, bukan solar? Keperluan industri akan solar jelas jauh lebih tinggi daripada premium. Jika begitu, mungkinkah harga-harga akan turun? Menyontek catatan teman saya di facebook, pemerintah justru memperbaiki daya beli orang-orang yang mempunyai banyak mobil, karena merekalah pemakai premium terbanyak. Jika harus menunggu hingga harga US $ 60 selama dua bulan beruntun, berapa persen peluangnya? Karena jika memang hal itu terjadi, maka ekonomi di dunia memang sudah memburuk. Tidak usah di demo pun, semua orang akan menurunkan harga BBM
  2. Menurunnya harga premium berarti bencana buat sopir angkot dan organda-organda lainnya. Mereka tak mungkin menurunkan tarif, tapi mereka pun akan kehilangan omzet angkutan karena akan banyak orang yang kembali menggunakan kendaraan pribadi. Dan Jakarta pun macet lagi
Mungkin dua hal tersebut adalah trade-off bagi pemerintah yang kelihatannya ingin menurunkan harga BBM secara bertahap. Untuk penurunan harga sebesar Rp 500,- saya bisa memahami karena pemerintah tahu benar, penurunan harga sebesar Rp 1.500,- tak akan berpengaruh signifikan terhadap inflasi. Hanya saja yang saya sesalkan, jika memang mereka mengerti hal itu, mengapa tetap menurunkan dengan harga yang "nggak niat"? Harga yang "nggak niat" itu justru akan menyulitkan mereka sendiri karena hal itu akan menjadi trigger untuk BBM jenis solar untuk turun harga. Dan jika hal itu terjadi terus menerus, harga bisa mencapai titik terendah dan subsidi bisa menggembung lagi. Padahal, dengan harga Rp 6000,- saja harga premium di Indonesia sudah yang termurah. Maaf, bukannya saya sok berbasis ekonomi pasar tidak peduli lagi dengan ekonomi kerakyatan, tapi menurut hemat saya daripada untuk menanggulangi subsidi BBM yang belum tentu digunakan oleh orang yang tepat, mendingan dana itu dialokasikan untuk pendidikan.

Logika yang cukup sulit diterima akal saya, semoga lain kali Bu Ani sudi untuk memberikan kuliah tambahan lagi bagi saya di mata kuliah Perekonomian Indonesia. Mungkinkah semua ini hanyalah aksi untuk kepentingan politik semata? Tapi ya sudah lah, daripada memikirkan harga minyak, lebih enak melihat berselancarnya saham Bumi Resource Tbk (BUMI) dalam perdagangan esok di luar auto rejection.

Salam,





Foto diambil dari sini
Tulisan hanyalah pendapat pribadi yang common-sense.

Read the full story

Iseng Nulis Lagi

2008-10-26 7 comments

Salam sejahtera.

Akhirnya setelah lebih dari setengah bulan saya nggak nulis, saya nulis lagi. Beberapa hari ini memang menjadi hari yang tidak cukup berat bagi saya. Sempat collapse beberapa saat, hingga harus terus menghibur diri lantaran hasil mid-test yang sangat tidak memuaskan. Entah mengapa, amnesia saya kambuh ketika saya harus ditanya bagaimana Fama & French membuat teori arbitrase harga dengan tiga faktornya. Persamaannya sebenarnya simpel, tapi penjelasannya yang agak bikin otak puyeng. Persamaannya ditulisnya seperti ini :


Minggu-minggu ini juga menyimpan beberapa kisah yang sebenarnya tidak terlalu esensial untuk saya ceritakan disini, seperti tentang perdebatan RUU Pornografi, perkawinan di bawah umur, dsb. Tapi biarlah, saya justru sedang ingin menulis hal-hal yang tidak penting tersebut. RUU Pornografi misalnya, What the hell is that? Saya sendiri nggak mau menjerumuskan diri pada pro dan kontra hal yang bagi saya nggak terlalu penting tersebut, karena hanya satu kesimpulan yang bisa saya tarik ketika RUU Pornografi itu diberlakukan. "Bangsa ini memang benar-benar abal-abal dan kurang berpendidikan, sampai-sampai masalah moral saja pemerintah harus turun tangan."

Begini, paling nggak, RUU itu benar-benar menguras energi dan pikiran. Dimana sebenarnya kita bisa memikirkan hal yang lain seperti pondasi pendidikan, kaderisasi olahraga (terutama sepakbola), dan sebagainya. Saya? jujur melihat kondisi yang ada di bangsa ini, saya mendukung adanya RUU tersebut dan cepatlah disahkan, sehingga tidak buang-buang waktu lagi. Orang-orang seperti orang Indonesia memang belum bisa diumbar. Sebagai perbandingan sederhana saja, sebagian besar orang AS menganggap film bokep sebagai barang subsitusi terhadap pelecehan seksual (data dari Oprah Winfrey Show), namun di Indonesia, film bokep justru muncul sebagai barang komplementer terhadap kejahatan tersebut. Kalau sudah begitu, siapa yang salah? Pun jika saya menjadi pemerintah sekarang, solusi jangka pendek adalah RUU Pornografi! Tapi dengan satu catatan : harus ada definisi yang jelas mengenai apa itu pornografi

Meski demikian, ada yang saya sesali dari proses pembuatan RUU ini. Mengapa islam terlalu dominan? Seharusnya diskusi mengenai pornografi juga diimbangi dengan sudut pandang budaya lainnya, terutama mereka yang bersifat kontradiktif. Sekali lagi, saya mendukung RUU tersebut bukan karena saya yang kebetulan dilahirkan sebagai seorang islam. Saya juga sedih, mengapa dengan teganya ada pihak yang menuduh jika pihak yang kontra hanya memanfaatkan isu ini untuk kepentingan politik? what the f**k. Saya sangat bersimpati dan mengerti benar mengapa mereka menolak RUU tersebut. Ini bukan masalah bertelanjang dada ataupun pamer paha seperti apa yang selalu dituliskan, tapi RUU ini sangat berpotensi memiliki derivasi dan batasan-batasan dalam berekspresi. Sayang, saya nggak ngerti tentang hukum. Solusi common-sense saya adalah disahkannya UU khusus bagi mereka yang memiliki kebudayaan alamiah yang berbeda.

Tapi ada hal yang lebih nggak penting lagi. Silakan tengok berita ini. Ternyata cukup banyak orang yang mengomentari berita tersebut. So, what about my words? Saya cuma bilang, "Yo luweh to, paling nggak, di dunia ini ada yang lebih pedofil dari pada saya yang maunya sama Gita Gutawa. Money is everything. Do'a saya, semoga si syeh itu nggak pergi naik onta kemana-mana gara-gara ngikutin kebiasaan Rasulullah dulu :p." terus abis itu bilang ke sang istri mudanya, "Mesakke men to kowe nduk, durung nganti ngedugem kok wes didugem."

Sekian sampah-an saya dan terima kasih,

Salam

Read the full story

"Islam", Betapa Menyebalkannya Dirimu

2008-09-26 46 comments

"Hey, this is God
Can I please have your attention
There's a need for intervention
Man, I'm disappointed in what I'm seeing."
Phil Vassar, This Is God

Lebaran sebentar lagi, film Laskar Pelangi pun telah serentak diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai kemarin. Saya agak kecewa. Maksud hati menonton perjuangan Ikal dan kawan-kawan di layar lebar, namun apa daya THR belum juga turun. Dan akhirnya, malam-malam indah yang sedikit 'tumben' karena nggak hujan, dihabiskan dengan cara menonton TV dan 'sedikit' melakukan perampokan di LP Margonda, yang baru-baru ini kembali underwater.

Sebenarnya, misuh ketika nonton TV show lokal adalah sebuah kegiatan rutin seperti halnya Shalat lima waktu. Ya, anda pasti mengerti lah, begitu banyaknya tontonan hewan yang bertebaran di layar kaca. Para Pencari Tuhan masih 4 jam lagi. Namun entah mengapa, perhatian saya terpusat pada sebuah berita yang lagi-lagi memberitakan kebrutalan tingkah laku FPI. Kali ini di Tasikmalaya. Seorang pedagang bakso diserang habis-habisan oleh para preman tersebut dengan alasan ia tetap berjualan di siang hari, tatkala umat islam sedang berpuasa. Modal yang dimiliki oleh pedagang semenjana itu pun ludes. Berita selengkapnya dapat dilihat disini. Saya juga pernah menuliskan uneg-uneg saya soal ormas yang nyaris tak ada bedanya dengan kaum nationalsozialismus alias Nazi tersebut disini.

Jujur, saya masih tidak habis mengerti mengenai apa yang dilakukan oleh rekan-rekan FPI. Maaf, bukannya saya ingin menggurui ataupun merasa yang paling benar. Tapi bagi saya, tindakan yang dilakukan oleh para makhluk yang menyebut diri mereka pembela islam tersebut sudah kelewat batas. Mereka benar-benar telah mencemari citra islam sebagai agama yang indah dan damai. Memang, ada sebuah hadist yang mengatakan jikalau tak bisa lagi diingatkan dengan cara lembut, sebaiknya pakailah cara yang keras.



Well, pikiran saya jadi terkonsentrasi pada terminologi kata keras. Bagi saya, ada bedanya keras dengan kasar atau brutal. Kasar itu keras, tapi keras belum tentu kasar. Contoh kecil ada dalam dunia sepakbola dimana Manchester United kemarin bermain keras saat berhadapan Chelsea di Stamford Bridge dan dihadiahi 7 kartu kuning oleh wasit. Sementara kasus tackle Mark Taylor yang membuat kaki Eduardo da Silva patah, merupakan tindakan brutal.

Begitu pula dengan FPI. Bagi saya, tindakan mereka itu sudah bukan dakwah lagi. Tapi hanya show-off semata bahwa eksistensi islam itu masih kuat. Is it worth?. Setahu saya, Muhammad SAW tidak pernah bermain kasar (apalagi brutal) ketika beliau berdakwah. Salah satu sabda beliau yang masih saya ingat kalau tidak salah berbunyi seperti ini:
"Sesungguhnya agama itu mudah"
HR Bukhari

"Mudahkanlah (kalian) berdua dan janganlah mempersulit, gembirakanlah (kalian berdua) dan jangan membuat (orang) lari"
HR Bukhari jugax
Ya, seperti itulah sabda Rasulullah ketika mengutus Mu’adz dan Abu Musa Al-Asy’ari ke Yaman untuk berdakwah diriwayatkan oleh Al Bukhari masing-masing kalau tidak salah pada kitab Al-Iman dan Al-Maghazi. Saya lupa dimana bab dan nomor berapa persisnya. Tapi setidaknya hal itu memperlihatkan bagaimana Muhammad SAW selalu menginstruksikan para 'marketer' agama itu untuk berdakwah. Begitulah yang selama ini saya tahu. Atau mungkin saya salah? semoga anda yang lebih tahu kebenarannya dapat memberi info kepada saya.

Sudahlah, saya merasa kurang kompeten jika harus berbicara seputar hadist. Mungkin para FPI itu lebih jago dari saya dalam hal hadist. Saya hanya akan memberikan pandangan sosial saja. Habieb Rizieq cs sudah harus sowan terlebih dahulu kepada pak Hermawan Kartajaya dan memahami apa itu marketing.

That's it, dakwah itu sebenarnya bisa dianalogikan dalam konteks pemasaran. Yaitu memasarkan apa yang ada dalam otak kita, supaya diikuti orang lain. Bahasa gampangnya adalah pemasaran ide. Nah, kalau kita ingin memasarkan sesuatu, produk adalah variabel utama menuju kesuksesan. Untuk produk saya pikir tak ada masalah, jika memang yang dibawa adalah islam yang benar-benar islam.

Variabel lain yang tidak kalah pentingnya adalah konsumen alias target dakwah. Sang pendakwah hendaknya harus mengerti benar bagaimana cara menaklukkan target mereka dengan cara yang elegan. Tidak asal gebuk seperti preman. Ke-eleganan itulah yang akan menaklukkan hati konsumen. Coba lihat, bagaimana Deddy Mizwar dengan sinetronnya Para Pencari Tuhan.

Begitu pula masalah citra alias brand. Apa yang dilakukan oleh FPI benar-benar telah merusak citra islam. Ditangan mereka, opini tentang islam justru berkembang sebagai agama yang keras, goblok, preman, tidak toleran, memaksa untuk indifferent, dan menakutkan. Atau minimal sama seperti apa yang dikatakan seorang blogger muda Deathlock dalam artikelnya disini. Dan pada akhirnya, kehadiran islam selalu berdampak negatif bagi lingkungannya. Hal ini jelas jauh dari kata-kata damai. Bukankah tujuan orang beragama itu adalah untuk mencari kata damai?

Capek memang berbicara tentang sebuah klan yang telah terbungkus otaknya dengan rapi. Ya sudah lah, daripada bingung, tampaknya saatnya saya menjadi 'seorang islam'. Seorang yang dogmatis yang selalu menyelesaikan segala sesuatunya dengan hukum agama. Begini, beberapa waktu lalu beberapa 'orang islam' menganggap bahwa rokok itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Maka (kata mereka) solusi terbaik adalah haramkan rokok. Sepertinya FPI juga mirip dengan rokok.

Ya, saya tidak menafikkan bahwa ada manfaat yang timbul karena kehadiran mereka. Namun saya pikir, hal itu tak ada apa-apanya dibandingkan kesuksesan mereka merusak nama baik islam. Sori bos, ini bukan dunia Shakespeare, dimana nama tak ada artinya. Kalau sudah begitu, mungkinkan MUI mengharamkan gerakan FPI? I hope So !!! Mungkin dengan berkata seperti itu, selanjutnya jidat saya akan segera dicap dengan tiga huruf oleh makhluk-makhluk FPI yaitu kaf, fa, sama ra alias kafir!

Oia, terakhir saya ingin meminta maaf kepada rekan-rekan dari Manajemen 2005 karena nggak bisa menghadiri buka puasa bersama di Rumah Aya kamis kemarin. Tapi jujur, pengen banget gue makan makanannya T_T

Salam,




Banner anti FPI dari Antobilang
Gambar FPI yang lagi ngamuk diambil dari sini

Read the full story

Crusaders Di Industri Selular Indonesia

2008-08-13 14 comments



Di postingan ini, saya sempat sedikit menyinggung tentang perang harga di dunia seluler di republik ini. Dan saya pikir, sudah menjadi sebuah fenomena umum jika para operator selular itu mengadakan perang harga dengan tujuan utama: merayu para pelanggan untuk berpindah ke operator mereka. Sejujurnya, saya sangat tidak menyukai kondisi peperangan itu karena korban yang "mungkin" bermunculan justru lebih besar dari pada perang salib. Korban tersebut berjajar dari mulai para pemain, rakyat biasa, hingga senjata yang harus mereka gunakan. takboletakbole

Baru-baru ini, saya membaca dari website ini, tersurat bahwa komplain terhadap operator selular meningkat. Salah satunya adalah Jebakan dari iklan. Iklan yang ada saat ini terkesan menjebak dengan tarif yang sangat rendah, bahkan ada yang menjanjikan gratis. Tapi, pada waktu pemakaian tertentu tiba-tiba sambungan putus. Selain itu, kenalan blogger saya dari Jogja memiliki keluhan lain yang bisa dibaca di artikelnya disini. Saya lalu tertawa, karena saya sempat mengalami masalah yang sama.gelakguling

Ya, itu adalah salah satu efek buruk yang ditimbulkan karena perang harga. Suatu kondisi dimana perusahaan akan berjuang mati-matian untuk mereduksi COGS atau biaya pokok untuk penjualan (saya tak suka menyebut harga pokok penjualan karena menurut saya, cost ≠ harga, melainkan biaya). Dan salah satu dampak ekstrim pengurangan biaya produksi tersebut adalah penurunan kualitas yang juga berarti pengabaikan tingkat kepuasan konsumen terhadap barang tersebut. Hal ini banyak terjadi dalam industri pesawat terbang seperti kasus Adam Air, Lion Air, dsb.

OK, bagaimana dengan industri seluler? Saya melihat peperangan ini dimulai ketika CDMA Esia memproklamirkan "1 jam = Rp 1000,-". Saat itu, banyak orang yang menganggap bahwa pasar CDMA dan GSM itu merupakan pasar yang berbeda karena pada kenyataannya banyak orang yang memiliki dua provider selular dari dua jaringan tersebut. Namun, lambat laun predatory pricing yang dibuat Esia kala itu berdampak ke operator GSM. Jika dulu di benak kita CDMA untuk nelpon dan GSM untuk SMS-an, kini tidak lagi.

Para provider GSM ternyata gerah dengan apa yang dilakukan Esia. Dan akhirnya mereka melakukkan "serangan fajar" dengan pemberian diskon-diskon. Namun tetap gagal, dan akhirnya perang tarif pun tak terhindarkan. Dalam perang kali ini, saya melihat Indosat dan XL adalah crusaders yang paling reaktif dibandingkan para pelaku pasar lainnya. Mengapa? anda mungkin bisa mengamatinya dengan iklan-iklan yang ada di TV. Disitu anda disuruh memilih antara Dian Sastro & Luna Maya. rindurindu

Saya melihat hal ini merupakan sebuah upacara ritual kematian bagi para peserta perang. Logika sederhananya begini. Dengan adanya perang harga, konsumen memang sangat diuntungkan dengan adanya harga murah, meski mereka harus membayar trade-off dengan menurunnya kualitas produk (dalam istilah Jawanya: "rego nggowo rupo"). Dan ketika seluruh harga tersebut bergerak menuju ketitik terendah, tak ada jurus ampuh lagi yang bisa dilakukkan selain mengurangi biaya pembuatan produk tersebut (karena pada kenyataannya perusahaan nggak bakalan ada yang mau rugi) yang juga berarti kemungkinan besar untuk terjadi penurunan kualitas. Namun, kondisi perang harga yang intensif, khususnya pada fixed wireless access, yang diindikasikan dengan promosi BTL (Below the Line) dan ATL (Above the Line) promotion dapat menyebabkan kejenuhan di mata konsumen karena mereka tidak akan ngeh dengan diferensiasi harga. Suatu kondisi dimana para konsumen tidak dapat membedakan antar produk satu dengan lainnya lantaran sama-sama murah. Setelah itu? Hanya ada satu kata di benak manajer marketing operator seluler, yaitu: pusing !!! blurblur

Justru saya melihat, Telkomsel sangat diuntungkan dengan adanya peperangan tersebut. Mengapa? karena mereka adalah pemimpin pasar dan didukung oleh pendanaan yang sangat kuat dari Telkom dalam kegiatan operasionalnya. Cobalah anda lihat, Telkomsel tidak terlalu aktif dalam persaingan perang harga, they just wait and see. Menurut saya, mereka sudah memiliki sejumlah rencana khusus terkait dengan yang satu ini. fikirfikir


Begini, boleh jadi mereka memang "kalah murah" dibandingkan para pesaingnya. Tapi dengan jaringan yang mereka miliki, rasanya sulit bagi para provider lainnya untuk menggoyang Telkomsel yang memiliki jumlah pelanggan sebanyak 48% dari total pelanggan di tahun 2007 lalu.[1] Mengapa? karena diperlukan sebuah insentif lebih bagi para pelanggannya untuk berpindah ke operator lain. Karena saya pribadi agak malas jika harus gonta-ganti nomor telefon setiap seminggu sekali (mungkin anda juga...). Dan insentif tersebut coba diwujudkan oleh para pesaingnya dalam bentuk tarif yang murah. Mungkin hal ini sedikit berhasil di Jawa, tapi untuk merambah luar Jawa? Sepertinya perlu waktu yang lebih panjang lagi. Nah, masalahnya, apakah para crusaders tersebut masih sanggup bertahan dalam tahap perayuan konsumen ini? Saya sangsi dengan hal itu. sighsigh

Mungkin sebagai pemain besar, Telkomsel mengharapkan pertarungan sesama musuhnya akan diakhiri dengan kebabakbeluran dari setiap petarung, sehingga pada akhirnya mereka akan melenggang sendirian menuju puncak. Mungkinkah hal ini terjadi dikala industri ini telah berkembang 40% - 55% dalam dua tahun terakhir[2]? Kenapa tidak. Seperti yang sudah saya katakan diatas, konsumen bisa jadi tidak dapat membedakan antar produk satu dengan lainnya lantaran sama-sama murah, dan pada akhirnya akan memilih produk dengan kualitas yang terbaik.

Maka dari itu, sejujurnya saya mengusulkan kepada pihak KPPU untuk meninjau ulang industri yang satu ini (atau justru mengharamkan perang harga, tak hanya kartel harga). Jangan sampai slogan Adam Air terbang murah dengan nyawa murah terulang lagi :ngacir:



1 Data market share dikutip dari http://telkom.info/
2 Data perkembangan industri seluler dicomot dari situs Bank Indonesia

DISCLAIMER :
Semua data yang saya pake disini adalah data sekunder
Gambar saya ambil dari sini

Read the full story

Bisnis Retail dan Kartel Harga

2008-08-11 4 comments


Sungguh, setelah membaca artikel ini seolah saya baru terbangun dari sebuah tidur panjang akan persepsi yang saya gunakan terhadap slogan "dijamin paling murah". Selama ini saya selalu beranggapan bahwa slogan yang sangat populer di kalangan industri retail seperti Carrefour, Giant, & Walmart tersebut semata-mata hanya untuk optimalisasi perputaran persediaan (inventory turnover) sehingga tercapai sebuah keuntungan maksimum yang diharapkan. Akan tetapi, saya seolah terlena dengan satu hal yang lebih penting dari itu, yaitu kartel harga.

Begini, suatu penjelasan yang sangat logis diberikan oleh Mr Dony DW dalam blog ini bahwa pemakaian slogan ini menyebabkan harga berada pada level yang tinggi. Pemakaian slogan ini sebenarnya bukan merupakan pesan kepada konsumen bahwa toko mereka adalah toko termurah sehingga konsumen ingin terus membeli barang di toko tersebut, melainkan lebih kepada ancaman kepada toko-toko kompetitornya. “Kalau Anda berani menurunkan harga, kami siap menurunkan harga di bawah harga Anda”. Itu yang dilakukkan oleh para pemain bisnis retail di dunia, kalau bisa dijual murah, kenapa harus mahal?

Sekilas memang benar semua itu terlihat sebuah lomba untuk mengambil kue pasar yang sebesar-besarnya dengan cara memutar (baca: menjual) barang sebanyak-banyaknya dengan harga semurah mungkin dengan harapan mampu mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, secara logika dapat kita runut bahwa persaingan tersebut adalah awal mula dari perang harga. Mengapa? Jelas, karena semua pemain akan berusaha merendahkan harga jual serendah-rendahnya. Dan akibatnya, spread harga penjual satu dengan lainnya menjadi sangat kecil atau dengan kata lain, harga yang ditawarkan menjadi sangat mirip. Selanjutnya, ketika pergerakan harga berhenti pada level terendah, hal ini bisa dianggap melanggar hukum monopoli karena bentuknya mirip kartel harga yang menghambat persaingan sehat. Konsumen memang tidak dirugikan dalam kasus ini, tapi kasus ini justru menggerus kondusifnya iklim persaingan usaha.

Sebuah kekhawatiran saya muncul juga dalam industri selular, dimana akhir-akhir ini makin banyak promo-promo yang ditawarkan dengan sebuah tujuan utama, memposisikan produk mereka sebagai yang termurah di mata konsumen. Kondisinya sangat mirip dengan bisnis retail, dan menurut saya, pemain-pemain seperti XL, IM3, dan 3 akan "punah" karena seleksi alam seiring dengan semakin getolnya mereka menyuarakan "Harga Murah". Ingat, murah itu ada batasnya, jangan seperti industri pesawat terbang.



1. Gambar Walmart Diambil Dari Sini
Read the full story

Miskin Karena "Salah Kaprah"?

2008-07-28 5 comments

Bukan karena sebuah idealisme saya menulis tulisan ini. Sebab bagi saya idealisme itu adalah bull shit. Tapi saya menulis ini hanya sebagai ungkapan perasaan simpati kepada beberapa gelandangan yang saya temui di pelataran Stasiun Gondang Dia, Jakarta Pusat. Fenomena menyedihkan tersebut saya temui sepulang dari Center for Democracy & Transparancy (CDT) Institute, beberapa ratus meter dari Stasiun Gondang Dia. Sayang, saya tidak membawa kamera saat itu. So, saya tak bisa mengabadikan gambar mereka. Yang ada hanyalah gambar colongan dari blog ini



Entah mengapa, begitu banyak orang miskin di republik ini. Padahal, konon katanya bangsa ini dianugrahi oleh kekayaan alam yang melimpah. Sejenak, saya setuju dengan Vilferdo Pareto, seorang ekonom Italia yang lahir di Paris. Hukum yang juga dikenal dengan Prinsip 80/20 (the 80/20 Principle) itu mengatakan bahwa 80 % akibat berasal dari 20 % penyebab. Dalam hal ini, saya jadi tertegun, apakah 80 % kemiskinan di Indonesia itu disebabkan oleh 20% orang?

Sejujurnya, terkadang saya berpikir. Apakah lantaran sudah merasa makmur, lalu bangsa ini nggak pernah sadar ketika mereka ketinggalan? Tengoklah negeri Skandinavia seperti Finlandia dan Swedia. Betapa luar biasanya perkembangan mereka dalam satu dasawarsa terakhir jika dilihat dari pendapatan perkapita mereka. Padahal dulunya, negeri-negeri itu nggak lebih dari sebuah wilayah yang sangat "merindukan" cahaya matahari setiap harinya. Ataukah karena bangsa ini nggak terlalu pintar buat berkembang?

Banyak para ekonom yang mengatakan bahwa kemiskinan adalah keniscayaan yang harus terjadi. Ya, karena dengan adanya kemiskinan, diharapkan ada sebuah insentif untuk melakukkan mobilitas vertikal. Benarkah? Mungkin benar. Secara umum, saya sendiri membagi kemiskinan ini menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah kemiskinan karena malas. Jujur, di Jakarta, apapun bisa menjadi uang lantaran 70% uang di Indonesia beredar di Jakarta. Hanya masalah kreativitas dan kerja keras saja yang menentukan, apakah kita bisa mendapatkan apa yang kita mau. Tapi beberapa manusia terkadang gengsi atau malas melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai. Bagian kedua adalah kemiskinan karena keterbatasan informasi. Atau bahasa gampangnya dia nggak tahu, uang ada dimana. Nah, ini yang jadi penyakit pemerintah. Informasi disini bisa berarti pendidikan, jaringan, atau informasi secara konkrit.

Pendidikan adalah sebuah aspek yang sangat lemah di bangsa ini. Tapi ya sudah lah, saya bukan orang kompeten yang bisa memberi ide tentang bagaimana cara mendidik yang baik. Tapi, seenggaknya saya sangat miris melihat kadar pendidikan bangsa ini. Di CDT, saya sempat melakukkan survey terhadap 70 responden di Makassar dan Pare-Pare ditambah 35 responden dari Jogja. Hasilnya, tidak lebih dari 5% yang pernah merasakan bangku kuliah. Memang, hal ini tidak representatif terhadap kesimpulan mengenai kadar pendidikan di Indonesia karena memang survey yang saya lakukan bukan bertujuan untuk itu.

Saya mungkin tak perlu menjabarkan lagi kebobrokan pendidikan di republik ini. Mungkin anda pembaca, sudah jauh lebih tahu dari saya. Tapi saya memaklumi itu. Bagaimana tidak, lha wong APBD yang jumlahnya milyaran atau bahkan trilunan rupiah yang bisa untuk membiayai pendidikan justru lari ke klub peserta Liga Super Indonesia 2008. Padahal para petinggi klub itu mengklaim bahwa mereka klub profesional. Sungguh Memalukan !!! Itu belum termasuk uang "sisa" pembelanjaan yang harus habis pada waktunya. Nah, gimana Indonesia maju kalo kayak gitu. Saya pernah mengobrol ringan dengan salah seorang "pengemis profesional" dari kampung Lio, Depok. Dia hanyalah seorang lulusan SMP. Baginya, jangankan masuk SMA, lulus SMP saja sudah syukur.

Pendidikan memang mahal. Saya tidak memungkiri hal itu. Cobalah anda kuliah di Ivy League, AS di kampus apa saja. Mungkin biaya kuliah anda satu semester di sana sebanding dengan biaya hidup anda selama tiga tahun disini. Semakin tinggi ilmu yang mungkin dibagi, semakin mahal harganya. Itu hukum alam bukan? Dan saya pikir, jika anda seorang profesor dan anda mau tidak dibayar untuk mengajarkan ilmu anda kepada orang lain, mungkin anda adalah 1% dari penduduk dunia di golongan ini. Memang, jangan bandingkan AS dengan Indonesia, lantaran disposable income kita sangat berbeda jauh dengan warga AS. Kita sangat jauh di bawah.

Lantas, apakah para orang kaya itu diam saja? Nggak juga kok. Buktinya, beasiswa bejibun sampai numpuk-numpuk, seenggaknya di kampus saya. Setahu saya sebagian besar pengusaha di Indonesia berpikir, daripada mereka membayar pajak yang tinggi, mendingan uangnya buat rapel-an beasiswa.

Masalahnya seperti yang saya bilang diatas tadi. Pengeluaran yang nggak semestinya banyak terjadi di kalangan pemerintah. Pengeluaran untuk Olahraga, terutama buat klub-klub itu terlalu besar. Jujur, saya malah melihat bahwa pemerintah lebih peduli dengan prestasi Timnas Indonesia dari pada prestasi rakyatnya di bidang akademis. Dan hasilnya? Ya, anda tahu sendiri lah. Bagi saya, hal itu membuktikan sebuah budaya instan di kalangan rakyat Indonesia. Anda mau tahu, subsidi pemerintah buat klub liga super habis buat apa? That's it, cuman buat bayar gaji pemain asing dan pemain bintang !!! Saya takut, pemerintah jadi salah kaprah akan hal ini. Mereka nggak tahu (atau mungkin pura-pura nggak tahu), prioritas yang lebih penting.

Well, saya sebenarnya adalah seorang yang sangat mendukung adanya persaingan dan liberalisme. Tapi di Indonesia tidak untuk dua hal, pendidikan & kesehatan. karena bangsa ini belum mampu lari kesana.



Disclaimer:
Gambar saya colong dari sini


Read the full story

Mengurangi Resiko Pembajakan di Industri Kaset

2008-07-10 0 comments



"Selayakkah engkau tahu
Betapa ku mencintaimu
Kau terangkanku dari mimpi burukku

Selayakkah kau mengerti
Betapa engkau kukagumi
Kau telah tinggal dalam palung hati"
(Kangen Band - Usai Sudah)

Lagu diatas adalah cuplikan dari lirik sebuah band yang dipuja sekaligus dicaci yaitu Kangen Band, sebuah band yang mengawali kariernya dengan menjadi anggota indie band Lampung dan sempat menggelegarkan dunia permusikan Indonesia beberapa waktu lalu. Band ini dipuja oleh sebagian kalangan di Indonesia lantaran lagunya yang easy listening tapi juga dibenci lantaran dianggap "menodai" seni dan musikalitas yang tinggi dalam membuat lagu.

Well, saya sendiri tak mau berpihak ke salah satu kalangan meski secara pribadi, saya tidak menyukai band-band yang terlalu easy listening (dalam bahasa saya: low-end). Tapi apa yang terjadi di dunia musik Indonesia memang benar-benar unik dimana saat ini, nyaris terjadi penurunan kualitas dari musik itu sendiri. Saat ini, sulit ditemui lirik yang sepuitis Katon Bagaskara, nada-nada yang menyentuh kalbu karya Ebiet G Ade, dan romantisme ala Glenn Fredly dan Melly Goeslaw. Yang ada hanyalah lagu-lagu based on "gitar kerompong" karya Radja, Kangen Band, Merpati Band, dan banyak lagi.

Memang tidak salah jika menilik demografi masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah penikmat musik-musik easy listening. Cobalah kita tengok ke daerah-daerah, tanyalah kepada anak muda disana, apakah mereka bisa menikmati musik jazz seperti Tompi. Kalaupun iya, persentasenya mungkin sangat sedikit. Bisa dimaklumi, buat mikirin kehidupan sehari-hari saja sudah pusing, apalagi buat mencerna lagu-lagu jazz milik Tompi ataupun Bunglon. Dan mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa lagu bunuh diri yang memiliki banyak versi baru-baru ini begitu populer dikalangan pengamen jalanan :)

Mudah Bosan

Terlebih, jaman sekarang hanya dengan satu single saja yang nge-hits, sudah cukup untuk membuat populer sebuah grup band ataupun penyanyi. Hal ini diungkapkan oleh pentolan grup band Dewa, Dhani Achmad. Maka dari itu, dia pun merasa bahwa lagu-lagunya di album Bintang Lima dan Cintailah Cinta adalah sebuah pemborosan. Dhani memang terlihat taktis membaca pasar. Tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan pasar?

Bagaimana kita tidak bosan, lha wong sekarang kita dihadapkan dengan pilihan yang banyak dalam mendengarkan musik dengan format MP3, terutama bagi mereka yang telah "mengenal" komputer. Coba bandingkan dengan 5-10 tahun yang lalu ketika untuk mendengarkan lagu kesayangan kita mesti memiliki kasetnya dengan merogoh kocek 20 ribuan dan harus rela mendengarkan seluruh isi lagu dalam kaset sehingga lagu-lagu tersebut benar-benar "ngelotok" di otak kita. Sekarang? Boro-boro beli kaset, hanya sekali download di kost-an saja sudah bisa didapatkan lagu-lagu itu dengan cuma-cuma. Alhasil, kita tak melakukan "pengorbanan" yang signifikan untuk mendapatkan barang itu, sehingga "rasa cinta" kita terhadap sebuah lagu pun nggak "everlasting".

Memang, ada yang mengatakan bahwa fasilitas download gratis itu juga dilakukan oleh pihak major label sebagai sarana pemasaran produknya. Tapi jika kita lihat lagi, biaya yang harus dikeluarkan sangat besar, mulai dari biaya nominal (iklan, promosi, dsb) hingga biaya kehilangan kesempatan lantaran alih-alih membeli kaset, para konsumen justru malah berlomba mendownload-nya secara gratis! Contoh kasus terakhir adalah saya sendiri :D

Memaksimalkan Kaum Low-End

Jika memang seperti itu adanya, menurut hemat saya, para major label itu sudah memiliki perhitungan tersendiri mengenai resiko pemasaran (baca:pembajakan) yang akan mereka alami. Resiko ini tak bisa atau sulit untuk dihilangkan karena selain menjadi senjata ampuh pemasaran, kecenderungan para maniak download seperti saya untuk berhenti mencari link download gratisan sangat impossible. Satu hal yang saya sadari adalah pergeseran target pasar oleh para major label.

Simpelnya begini, taruhlah kita bagi segmen pasar ini menurut tingkat perekonomiannya. Ada golongan elit (high-end), menengah keatas (middle-up), menengah kebawah (middle-low), dan kalangan bawah (low-end). Bagian mana yang paling berpotensi mengurangi pendapatan perusahaan dengan aktivitas download-nya? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, maka saya akan menjawab bagian menengah, entah itu keatas ataupun kebawah. Mengapa? Pertama dari sisi akses, mereka mungkin menghadapi internet sedikitnya 4-8 jam sehari. Dan untuk melakukan download, hal itu tidak sulit bagi mereka. Kedua adalah masalah ongkos, bagi saya, mengapa harus repot-repot membeli CD asli dengan harga paling nggak 35000 jika di indowebster saja tersedia gratis...tis...tis...tis...

Namun, bukankah golongan elit juga memiliki akses yang sama? bahkan lebih? Itu memang benar, namun biasanya, mereka cenderung "menghargai" produk-produk bikinan orang karena tak ada pembatasan biaya untuk mereka. Kalaupun mereka memang mencintai lagu tersebut, biasanya mereka langsung membeli CD atau kaset di toko kaset terdekat. Rata-rata tak ada kamus bajakan dalam kehidupan mereka karena hal itu berkaitan dengan gengsi.

Lantas bagaimana kaum low-end? sebenarnya agak spekulatif saya menulis disini karena tulisan saya hanya berlandaskan common-sense belaka. Begini ceritanya, rata-rata mereka tidak mempunyai akses ke internet sebesar kaum diatasnya, bahkan mengenal internet pun mungkin tidak. Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk menyukai lagu-lagu yang tengah beredar. Karena cinta itu buta, tak jarang bagi mereka untuk mengorbankan segala sesuatunya demi cinta. (hehehe... what a bull shit...). Tapi justru hal itu yang menghadirkan potensi pendapatan bagi perusahaan. Pasar low-end di Indonesia, menurut saya adalah yang terbesar di republik ini.

Ya, pengorbanan mereka itu mungkin menghadirkan inelastisitas kaset. Tampaknya hal ini sudah terbaca oleh kalangan musisi dan major label sehingga, kebanyakan lagu yang hadir saat ini adalah lagu-lagu yang mudah untuk didengarkan dan "dimasukkin" ke otak. Dan itulah karakteristik orang low-end. Pihak produsen tampak mengalihkan target mereka dari masyarakat menengah menjadi masyarakat bawah. Mereka memanjakan target barunya dengan lagu-lagu yang sesuai dengan karakter mereka.

Mengurangi Resiko Pembajakkan

Lantas, apa hubungannya dengan resiko pembajakkan? Resiko pembajakkan yang saya maksud disini adalah seberapa besar persentase pembajakkan dapat mengurangi kemungkinan pendapatan perusahaan. Kalangan atas memiliki segmen yang begitu spesifik dan biasanya, mereka cenderung menyukai produk-produk barat. Kalangan ini saya kira tak terlalu bermasalah untuk menghadirkan pendapatan. Kalangan menengah pun sangat sulit dikendalikan. Alhasil dari kalangan bawah lah, saat ini masih bisa diharapkan untuk menambang pendapatan yang lebih besar lagi. Sehingga, resiko pembajakkan yang bisa mengurangi jumlah pendapatan, bisa di"hedging" dengan maksimalisasi pasar low-end. Hanya saja, terkadang hal ini masih dapat dimentahkan dengan kecenderungan mereka membeli VCD bajakan. Jadi, bagi anda yang bosan dengan lagu-lagu yang ada sekarang, jangan salahkan pihak perusahaan rekaman dan musisi karena pasarlah yang memaksa mereka untuk seperti ini.


Salam,
Read the full story

Trading, Branding, & Change !!!

2007-12-28 0 comments

Salam,

Finally... I've reset this blog again since I felt that my previous blog was absolutely rubbish. And now, I'll never talk to you if my current blog is adorable, educative, or many other spectacular words that can make a blog fantastic. But at least, this is better than previous one.


In this blog, I typed that the world is about trading. why did I type those words? It's not solely that I'm a business student, but more than that. Trading, what is trading? trading is a mechanism between many sides for exchanging something that they're owned. It has done since pre-history era. In those moments, the trade doesn't use any medium of exchange like money, in which goods or services are exchanged for other goods and/or services too. I'm interested in many real phenomenon that all of things have been practiced. For instance, an employee actually just sell his labor so that the firm give them some incentives like wage, salary, bonus, etc. Even in Pariaman's culture, a marriage is decided based-on bride's side bid. If the groom is a doctor, for instance, consequently the bid offer will be higher than a farm. So as man-woman dating in Jakarta, in which a man must have something special that can be "sold" against the woman in order to the woman is interested in him. If the man is poor,whether in financial or educational position, then he'll get the couple in same or similar with him. It's like a supply-demand theory in the equilibrium market. That's above, only little instances that's occurred in this world.

The world actually is about branding too. Brand is not only needed by the companies for positioning themselves into customer minds, but also needed by the human for same things as the companies. Brand refers to reputation, something that can be made a good or bad impression in the first acquaintance against another peoples. In the marketing science that I've been studied, brand can be emerging if the companies have some differentiation surpassed with another competitors. So as in the human. Labeling theory in sociology science also confirm the justification above, when someone that have been labeled as a culprit, he will undergo a big deal about his position in the people's mind since the people has sentenced him, "He is a culprit !!!"

The world is also about change. As we know that the global culture must have been encountering some changes and we can't deny it. Many sides that couldn't survive in this world because they couldn't adapt in the new era. Like dinosaurus, that couldn't acclimate to new world, they will be entirely disappeared. Change can be occurred to everyone, everything, everywhere, etc. We shouldn't close our eyes for receiving them.

At last but not least, this is my blog, in which I'm gonna shed my ideas or my opinions. It's all about everything that have been teased my life. And eventually, I'll need your comments so much for my ideas. So I just wanna say, "Bienvenue ! Les boissons sont de ce côté-ci." Read the full story